Kekhawatiran Perang Dagang AS-Tiongkok Dinilai Berlebihan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (Jim Watson/AFP)
New York: CEO dari kelompok perdagangan dan investasi CLSA Jonathan Slone menyebut kekhawatiran tentang perang perdagangan AS-Tiongkok berlebihan. Pasalnya dampaknya terhadap Tiongkok tidak akan cepat dan penuh tantangan seperti yang diperkirakan banyak investor.

"Dibutuhkan waktu lama untuk memindahkan arus perdagangan. Tiongkok memiliki industri yang akan berada di sana untuk waktu yang lama dan mereka tidak mudah dipindahkan," kata Jonathan Slone, seperti dilansir dari CNBC, Selasa, 11 September 2018.

Dia menunjuk kasus ekonomi terbesar kedua di Asia sebagai contoh kecenderungan perdagangan untuk tetap di jalur yang ditetapkan dan sulit disingkirkan dalam waktu yang cepat. "Semua orang berpikir, Jepang, mereka akan kehilangan basis industri mereka ketika yen jatuh, tapi itu belum terjadi," tuturnya.

Kekhawatiran meningkatnya ketegangan perdagangan kembali meningkat ketika Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa dia siap untuk mengenakan tarif pada USD267 miliar barang Tiongkok lainnya, di atas tarif senilai USD200 miliar yang sudah diancamkan sebelumnya kepada Tiongkok.



Pembicaraan bulan lalu antara dua kekuatan ekonomi yang bertujuan mengurangi ketegangan tidak terjadi. Trump mengatakan minggu lalu bahwa dia tidak siap untuk membuat kesepakatan dengan Tiongkok. Meski demikian, ia menambahkan, Pemerintah AS akan terus berbicara dengan Pemerintah Tiongkok.

Dalam konteks ini, Slone menilai, kekhawatiran perdagangan terbilang berlebihan. Pasalnya, investor mulai memahami kondisi tersebut lebih kompleks. "Gambarnya jauh lebih kompleks daripada hanya kebisingan yang kita dengar melalui perdagangan," katanya.

Bahkan, Slone mengatakan, perang dagang bisa menjadi beberapa anugerah bagi Presiden Tiongkok Xi Jinping. "Ini benar-benar mendorong beberapa tema yang dia inginkan seperti naik rantai dan nilai tambah. Made in Tiongkok membawa lebih banyak robot dan lebih banyak mekanisasi," pungkas Slone.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id