Ilustrasi (TED ALJIBE/AFP)
Ilustrasi (TED ALJIBE/AFP)

Dolar AS Melempem

Ekonomi dolar as
23 Januari 2019 09:47
New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) sedikit melemah terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Hal itu terjadi karena daya tarik greenback sebagai mata uang safe haven turun di tengah tanda-tanda perlambatan ekonomi global.
 
Mengutip Antara, Rabu, 23 Januari 2019, indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun tipis 0,03 persen menjadi 96,30 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1362 dari USD1,1369 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2956 dari USD1,2888 pada sesi sebelumnya.
 
Dolar Australia turun menjadi USD0,7118 dibandingkan dengan USD0,7158. Dolar AS dibeli 109,29 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 109,64 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9970 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9976 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3349 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3293 dolar Kanada.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) merevisi prospek pertumbuhan ekonomi global pada 2019 menjadi 3,5 persen dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 3,7 persen.
 
"Setelah dua tahun ekspansi yang solid, ekonomi dunia tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan, dan risiko-risiko sedang meningkat," kata Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.
 
Sementara itu, sebuah laporan terpisah oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa kombinasi yang mengkhawatirkan dari tantangan pembangunan dapat semakin merusak pertumbuhan global.
 
Sedangkan mata uang safe haven yen Jepang memperpanjang kenaikannya didukung pertumbuhan global dan pound Inggris juga naik setelah data ekonomi menunjukkan tingkat pengangguran Inggris turun menjadi 4,0 persen, mengalahkan ekspektasi para analis.
 
Pelemahan USD pada 2019 adalah pandangan konsensus di antara pedagang pasar mata uang, karena investor bertaruh bahwa bank sentral AS akan berhenti menaikkan suku bunganya dan ekonomi diyakini melambat setelah dorongan fiskal tahun lalu, para pakar mencatat.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif