Presiden Donald Trump (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berjalan bersama (Jim Watson/AFP)
Presiden Donald Trump (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berjalan bersama (Jim Watson/AFP)

Tarif Baru AS Hantam Tiongkok Lebih Keras

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
Angga Bratadharma • 29 Desember 2018 16:05
Beijing: Dampak tarif Trump terhadap ekonomi Tiongkok sebagian besar hanya bersifat psikologis sejauh ini dalam perang perdagangan yang sedang berlangsung. Namun, kondisi tersebut akan berubah di tahun depan karena pengenaan tarif baru oleh Trump berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

"Dengan tarif Trump kami belum melihat dampak langsung sekarang ini, tetapi kami akan melihat itu di tahun depan. Permintaan global akan bergeser satu atau dua tingkat ke bawah," kata Ekonom Utama The Economist Intelligence Unit untuk Tiongkok Tom Rafferty, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 29 Desember 2018.

Manufaktur dan ekspor telah membantu mendorong kenaikan yang cepat bagi Tiongkok menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia. Namun, tantangan semakin meningkat karena apa yang disebut pertumbuhan global yang disinkronkan tampaknya akan mengalami penurunan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Apalagi, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok telah jatuh ke laju paling lambat dalam lebih dari dua dekade, dan Beijing sedang mencoba untuk menggeser perekonomian ke aktivitas ekonomi yang didorong oleh konsumsi sambil mengurangi ketergantungan pada utang untuk mendorong pertumbuhan. Namun sayangnya, kekhawatiran perdagangan menambah ketidakpastian domestik yang sudah memukul sentimen konsumen. Ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia meningkat tahun ini ketika AS di bawah Presiden Donald Trump memprakarsai tarif barang-barang Tiongkok senilai USD250 miliar -dua pertiga dari defisit barang bilateral pada 2017.

Beijing menanggapi dengan aksi serupa dengan mengenakan tarif senilai USD110 miliar dari AS. Pada bulan lalu, kedua belah pihak mencapai gencatan senjata sementara pada eskalasi baru. Gedung Putih telah sepakat untuk tidak menaikkan tarif pada Januari jika dapat menengahi kesepakatan dengan Tiongkok pada awal Maret.

Secara teori, tarif tersebut menaikkan harga bagi konsumen AS dan mengurangi permintaan untuk produk buatan Tiongkok yang akhirnya memukul ekonomi yang sudah melambat. Namun, surplus perdagangan Tiongkok dengan AS mencapai rekor pada November.

"Tahun depan, kita akan melihat ekspor melambat ke pertumbuhan rendah, satu digit," kata Kepala Ekonomi Tiongkok Macquarie Group Larry Hu, Larry Hu, seraya berharap AS dan Tiongkok akan mencapai kesepakatan, dan perlambatan di pasar properti Tiongkok memiliki dampak yang lebih besar pada ekonomi daripada tarif.

 


(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi