Ekonom Sayangkan Urusan Trump di Perdagangan Belum Selesai
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (FOTO: AFP)
New York: Sebuah reli pasar saham diperkirakan muncul pada Oktober 2018, tetapi sayangnya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump belum selesai dengan tuntutan perdagangannya. Bahkan, ancaman proteksionisme yang diluncurkan Trump telah menimbulkan arus modal keluar dari negara berkembang.

Kepala Ekonom Global Renaissance Capital Charles Robertson mengatakan kecaman Trump adalah sikap pembukaan yang khas tetapi akan mereda ketika pemilihan AS datang. Tentu diharapkan kebijakan Trump tidak bertentangan dengan ketentuan dan kebijakan proteksionisme bisa ditekan sedemikian rupa guna kepentingan bersama.

"Saya pikir ada reli pada Oktober ketika dia mengumumkan beberapa kemenangan dengan Tiongkok di mana mereka setuju untuk membeli tambahan USD100 miliar ekspor AS atau naik dari USD70 miliar yang mereka mulai tawarkan dua atau tiga minggu lalu," kata Robertson, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 30 Juni 2018.

Analis di Renaissance Capital memperkirakan tarif Trump sejauh ini hanya memengaruhi 0,4 persen dari barang senilai USD2,2 triliun yang diekspor Tiongkok setiap tahun. Dengan dasar itu, tidak ada salahnya kebijakan pengenaan tarif yang tinggi dikaji kembali agar tidak memberikan efek negatif terhadap perekonomian AS.



Indeks MSCI dari saham negara berkembang berada di titik balik dan berubah menjadi pasar beruang yang biasanya dianggap sebagai sesuatu yang aman di dalam ruang pasar yang sedang muncul. Sedangkan Tiongkok telah melihat indeks komposit Shanghai tergelincir ke level terendah dalam lebih dari dua tahun.

Sedangkan penguatan dolar Amerika Serikat (USD) telah memukul rupee India, Rand Afrika Selatan, dan rupiah Indonesia.Washington sejauh ini telah mengenakan tarif 25 persen pada sekitar USD34 miliar ekspor Tiongkok dengan ancaman eksplisit bahwa mereka dapat menaikkan angka itu segera.

Robertson mengatakan situasi saat ini dapat dikaitkan kembali ketika mantan Presiden AS Ronald Reagan juga membuat kemajuan agresif dalam perdagangan. Saat itu, target utamanya adalah Jepang.

"Anda melihat serangan konstan pada perdagangan. Permintaan untuk kuota mobil, ekspor baja, dan tarif 100 persen di televisi Jepang dan komputer Jepang. Ini terus dan terus," pungkas Robertson.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id