Tiongkok Disebut Tidak akan Menyerah terhadap Tuntutan AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (Jim Watson/AFP)
Beijing: Pemerintah Tiongkok disebut tidak akan tunduk pada tuntutan Amerika Serikat (AS) dalam negosiasi perdagangan, surat kabar China Daily yang dikelola negara mengatakan dalam sebuah editorial. Hal tersebut terungkap setelah para pejabat Tiongkok menyambut undangan dari Washington untuk putaran pembicaraan baru.

Tiongkok dan Amerika Serikat diatur untuk kembali ke meja perundingan guna membahas sengketa perdagangan sejalan dengan ancaman tarif baru AS yang menjulang setelah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin memberikan undangan kepada rekan-rekan di Beijing untuk bertemu.

Harian resmi China Daily mengatakan Tiongkok tetap serius untuk menyelesaikan sengketa perdagangan dengan AS. Namun, ditegaskan Tiongkok tidak akan tunduk dengan tuntutan AS meski ada kekhawatiran atas perlambatan ekonomi dan jatuhnya pasar saham. Tiongkok berharap pengenaan tarif yang tinggi bisa segera dihilangkan di antara kedua negara.

"Administrasi Trump seharusnya mengetahui bahwa Tiongkok tidak akan menyerah pada tuntutan AS. Tiongkok memiliki bahan bakar yang cukup untuk mendorong ekonominya, bahkan jika perang dagang berkepanjangan," kata surat kabar itu, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 15 September 2018.



China Daily menambahkan jika Amerika Serikat memberlakukan pungutan baru atas impor Tiongkok maka Beijing tidak akan ragu untuk mengambil tindakan penanggulangan terhadap tarif AS untuk melindungi kepentingan Tiongkok. Presiden AS Donald Trump mengatakan di Twitter bahwa Amerika Serikat berada di atas angin dalam pembicaraan.

"Kami tidak berada di bawah tekanan untuk membuat kesepakatan dengan Tiongkok, tapi mereka yang berada di bawah tekanan untuk membuat kesepakatan dengan kami. Pasar kami melonjak, mereka ambruk," kata Trump dalam cuitannya.

Pemerintah AS menyiapkan daftar akhir sebesar USD200 miliar atas impor Tiongkok yang rencananya akan memungut tarif 10 hingga 25 persen dalam beberapa hari mendatang, yang akan meningkatkan perang perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id