Komitmen Investasi 6 Industri Korsel di Indonesia Tembus USD446 Juta

11 September 2018 10:36 WIB
investasikorea selatanekonomi indonesia
Komitmen Investasi 6 Industri Korsel di Indonesia Tembus USD446 Juta
Menperin Airlangga Hartarto (berdiri ketiga kiri) menyaksikan penandatanganan 15 MoU yang dilakukan oleh perusahaan dan institusi Pemerintah Indonesia-Korea Selatan pada Forum Bisnis dan Investasi 2018 di Seoul (Foto: Kementerian Perindustrian)
Jakarta: Sejumlah industri manufaktur Korea Selatan dari berbagai sektor menyatakan minatnya untuk segera menanamkan modalnya di Indonesia. Komitmen investasi ini merupakan hasil dari Indonesia-Korea Business and Investment Forum 2018 sekaligus peringatan hubungan diplomatik kedua negara yang telah terjalin baik selama 45 tahun.

"Pertemuan ini mencerminkan antusiasme besar pengusaha Korea untuk lebih mendorong kolaborasi bisnis dengan Indonesia, baik dalam bentuk perluasan usaha maupun investasi baru di beberapa sektor industri yang prospektif," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa, 11 September 2018.

Adapun enam perusahaan yang telah komit berinvestasi yakni LS Cable System yang bermitra dengan PT Artha Metal Sinergi untuk pengembangan industri kabel listrik senilai USD50 juta di Karawang, Jawa Barat. Kemudian Parkland menggelontorkan dana USD75 juta guna membangun industri alas kaki di Pati Jawa Tengah, dan Sae-A Trading menanamkan modalnya hingga USD36 juta untuk sektor tekstil dan garmen di Tegal, Jawa Tengah.

Selanjutnya, Taekwang Industrial akan membangun industri alas kaki senilai USD100 juta di Subang dan Bandung, Jawa Barat. Selain itu, World Power Tech dengan mitra lokalnya PT NW Industries berinvestasi sebesar USD85 juta untuk pengembangan industri manufaktur turbin dan boiler di Bekasi, Jawa Barat, serta InterVest dengan Kejora Ventures yang menamamkan modalnya USD100 juta untuk jasa pembiayaan startup di DKI Jakarta.
 


Jadi, total investasi mencapai USD446 juta. Menperin meyakini kerja sama yang terjalin itu dapat mendorong industri manufaktur nasional untuk lebih meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri sekaligus penambahan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. "Ini yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi secara inklusif, terutama melalui program hilirisasi," tegasnya.

Langkah sinergi yang dibangun pelaku industri kedua negara juga diharapkan mendukung implementasi Making Indonesia 4.0. Salah satunya adalah membangun ekosistem inovasi dengan transfer teknologi yang berkelanjutan guna mendukung revolusi industri 4.0.

"Kami optimistis, hubungan antara kedua negara ini sangat menjanjikan di tahun-tahun mendatang dan itu akan menjadi dasar yang kuat untuk hubungan lebih lanjut antara kedua negara, terutama dalam membangun perekonomian," papar Airlangga. 

Penandatanganan 15 MoU

Pada kesempatan itu, Menperin juga turut menyaksikan penandatanganan 15 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang dilakukan oleh perusahaan dan institusi pemerintah kedua negara. Kerja sama ini meliputi sektor energi, properti, mesin, teknologi, dan kosmetika. Total komitmen investasi yang bersifat business to business (B-to-B) dari hasil MoU tersebut mencapai USD5,76 miliar.

Turut pula hadir menyaksikan dari delegasi Indonesia yakni Kepala BKPM Thomas Lembong, Ketua Kadin Indonesia Rosan P Roeslani, dan Kepala Bekraf Triawan Munaf. Rosan mengungkapkan masih banyak potensi-potensi perdagangan dan investasi antara RI-Korsel yang perlu digali. "Kami sangat terbuka akan investasi yang masuk ke Indonesia," ujarnya.

Menurut Rosan kali ini merupakan rombongan terbesar yang diajak karena membawa 104 pengusaha ikut dalam Indonesia-Korea Business and Investment Forum 2018. "Ini sebagai tanda membaiknya hubungan dagang dan investasi Indonesia dengan Korea Selatan yang sangat baik," pungkas Rosan.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id