Ilustrasi. Foto: AFP/Johannes Elisele.
Ilustrasi. Foto: AFP/Johannes Elisele.

Perang Dagang dengan Tiongkok, AS Berpotensi Resesi

Ekonomi as-tiongkok Perang dagang
Nia Deviyana • 03 Juni 2019 20:53
Jakarta: Tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang semakin memanas bisa memicu resesi pada perekonomian AS beberapa tahun mendatang. Belum lagi, jika kebijakan menaikkan bea impor juga diberlakukan kepada Meksiko dan sejumlah negara.
 
Hal tersebut dikatakan pengamat ekonomi Lana Soelistyaningsih. Dia berpendapat, dalam menghadapi kemungkinan resesi AS, negara berkembang seperti Indonesia harus memperkuat ekonomi domestik. Salah satunya dengan mendorong konsumsi rumah tangga.
 
"Mungkin ada yang bilang, kok sarannya bukan disuruh menabung malah konsumsi diperbesar? Karena kekuatan kita di konsumsi rumah tangga 56 persen," kata Lana saat dihubungi Medcom.id, Senin, 3 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lana mengungkapkan, untuk mendorong daya beli, maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus lebih banyak dialokasikan kepada pemerataan yang mendukung kesejahteraan rakyat.
 
Baca juga: AS-Tiongkok Harus Segera Berdamai soal Perang Dagang
 
Potensi resesi AS sudah menjadi perbincangan hangat sejak beberapa bulan lalu. Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Anton Hendranata menilai sinyal resesi sudah mulai terlihat dari imbal hasil pasar obligasi.
 
"Cara melihatnya sederhana, dilihat dari spread imbal hasil US treasury 10 tahun terhadap yang dua tahun. Kalau tren spread-nya mengecil dan menuju negatif, maka dua tahun kemudian biasanya AS akan resesi," jelas Anton saat mengisi diskusi di Bursa Efek Indonesia (BEI), April lalu.
 
Anton memaparkan pada kondisi perekonomian yang normal, surat utang dengan tenor lebih panjang seharusnya memberikan imbal hasil lebih tinggi. Namun, hal sebaliknya terjadi jika ada potensi resesi.
 
"Nah, ini kenapa surat utang dengan tenor pendek imbal hasilnya lebih tinggi dibandingkan tenor panjang," terangnya.
 
Baca juga: Babak Baru Perang Dagang AS-Tiongkok, Indonesia Harus Bagaimana?
 
Kendati demikian, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menyatakan jika perekonomian AS mengalami resesi, tidak berdampak secara signifikan pada perekonomian Indonesia. Bila AS mengalami esesi ekonomi, kata dia, kemungkinan hanya akan berdampak pada kebijakan tentang suku bunga yang dikeluarkan oleh The Fed.
 
"Kalau kami lihat adanya perlambatan ekonomi AS menjadikan suku bunga AS tidak naik lagi. Itu membantu Indonesia dalam pembiayaan current account deficit (CAD). Portofolio akan masuk ke Indonesia dan negara-negara emerging market lainnya," kata Mirza.
 

(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif