NEWSTICKER
Ilustrasi. AFP PHOTO/Jonathan NACKSTRAND
Ilustrasi. AFP PHOTO/Jonathan NACKSTRAND

Harga Minyak Dunia Lanjutkan Penurunan

Ekonomi minyak mentah
Antara • 26 Februari 2020 08:01
New York: Harga minyak dunia memperpanjang kerugiannya pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Pelemahan terjadi karena penyebaran cepat virus korona di negara-negara di luar Tiongkok menambah kekhawatiran investor tentang dampaknya terhadap permintaan minyak mentah.
 
Mengutip Antara, Rabu, 26 Februari 2020, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April ditutup USD1,53 lebih rendah menjadi USD49,90 per barel di New York Mercantile Exchange, mencetak rekor terendah dalam dua minggu. WTI turun USD1,95 menjadi USD51,43 sehari sebelumnya.
 
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April turun sebanyak USD1,35 menjadi USD54,95 per barel di London ICE Futures Exchange. Sehari sebelumnya minyak mentah Brent jatuh USD2,20 menjadi sebesar USD56,30 per barel
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pasar minyak tetap sangat rentan terhadap fluktuasi karena terperangkap dalam situasi sulit, menurut para ahli. Epidemi virus korona menyebabkan lebih banyak kematian dan gangguan, menyebar ke negara-negara baru ketika seorang pejabat kesehatan terkemuka memperingatkan dunia sama sekali tidak siap untuk membendungnya.
 
Bahkan ketika jumlah kasus baru menurun di episentrum penyakit di Tiongkok, telah terjadi peningkatan mendadak di beberapa bagian Asia, Eropa dan Timur Tengah. Di Iran, yang telah melaporkan 15 kematian akibat penyakit dari hampir 100 infeksi, bahkan wakil menteri kesehatan negara itu Iraj Harirchi mengatakan dia telah tertular virus tersebut.
 
Negara-negara Teluk mengumumkan langkah-langkah baru pada Selasa untuk memutuskan hubungan dengan Iran dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus. Uni Emirat Arab menangguhkan penerbangan penumpang dan kargo ke Iran, sementara Bahrain menutup sekolah-sekolah dan taman kanak-kanak selama dua minggu.
 
Ini terjadi setelah negara-negara Teluk Kuwait dan Bahrain mengumumkan kasus-kasus tambahan. Presiden Korea Selatan Moon Jae-in memperingatkan bahwa wabah itu sangat parah ketika angka kematian negaranya meningkat menjadi 10 dan jumlah infeksi yang dikonfirmasi mendekati 1.000 -jumlah terbesar di luar Tiongkok.
 
"Selera risiko tampaknya tumbuh lagi di pasar," kata Analis Energi Commerzbank Research Eugen Weinberg, dalam sebuah catatan.
 
Sementara kekhawatiran risiko terkait virus terhadap permintaan masih ada, ada juga keraguan yang muncul tentang kesediaan OPEC+ untuk memperpanjang dan memperluas pengurangan produksi yang diperlukan, tambahnya.
 
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sebagian besar telah membatasi produksi minyak dalam beberapa tahun terakhir untuk meningkatkan harga.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif