NEWSTICKER
Gedung The Fed. FOTO: AFP/Brendan Smialowski
Gedung The Fed. FOTO: AFP/Brendan Smialowski

Fed Siap Respons Dampak Virus Korona

Ekonomi Virus Korona the fed
Angga Bratadharma • 26 Februari 2020 11:03
New York: Federal Reserve melihat wabah virus korona sebagai ancaman signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi sejauh mana dampaknya belum diketahui secara pasti. Terlepas dari itu, diharapkan efek negatif dari virus tersebut bisa ditekan sedemikian rupa dan dalam konteks ini the Fed siap merespons jika ada perubahan.
 
Adapun saham telah mengalami aksi jual agresif karena khawatir virus korona akan memperlambat ekonomi Tiongkok yang dapat memiliki efek riak di seluruh rantai pasokan global. Pasar keuangan secara luas mengharapkan the Fed untuk memotong suku bunga acuan sebagai respons hal tersebut.
 
Namun, Wakil Ketua the Fed Richard Clarida mengatakan bank sentral Amerika Serikat (AS) nyaman dengan kebijakan seperti sekarang, dengan para pejabat terus memantau dampak penyakit itu. Tidak ditampik, virus korona telah memberikan efek negatif cukup dalam terutama terhadap melambatnya aktivitas ekonomi Tiongkok.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Gangguan di sana (di Tiongkok) dapat meluas ke seluruh ekonomi global. Tapi masih terlalu cepat untuk berspekulasi tentang ukuran dari efek ini, atau apakah mereka akan menyebabkan perubahan material dalam prospek (pertumbuhan ekonomi)," kata Clarida, seperti dilansir dari CNBC, Rabu, 26 Februari 2020.
 
Jika pandangan itu berubah, katanya, the Fed akan merespons sesuai dengan situasi dan kondisi terkini. Lebih lanjut, Clarida mengatakan, tingkat inflasi tetap diredam. Jika hambatan yang terjadi di Tiongkok harus mengarah pada perlambatan permintaan dan harga yang lebih rendah, ia mengklaim, the Fed bisa meredakan situasi itu.
 
Namun, Clarida menegaskan kembali sikap dari rekan pejabat the Fed-nya bahwa mereka tidak melihat pemotongan suku bunga acuan di tengah kondisi sekarang ini. "Selama informasi yang masuk tentang ekonomi tetap secara luas konsisten dengan pandangan ini, sikap kebijakan moneter saat ini kemungkinan akan tetap sesuai," tuturnya.
 
Sementara itu, jumlah kasus baru virus korona Covid-19 di Korea Selatan bertambah 169 per hari ini, Rabu 26 Februari 2020. Tambahan data menjadikan total jumlah infeksi korona di negara tersebut mencapai 1.146, sejauh ini terbesar di luar Tiongkok.
 
Dalam keterangan di situs Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC), orang kesebelas dinyatakan meninggal akibat terjangkit korona. Virus korona Covid-19 pertama kali muncul di provinsi Hubei, Tiongkok, pada Desember 2019. Sejak saat itu, Covid-19 terus bermunculan di banyak negara di hampir semua benua.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif