Ilustrasi (THOMAS SAMSON/AFP)
Ilustrasi (THOMAS SAMSON/AFP)

Benarkah AS Capai Kemandirian di Sektor Energi?

Ekonomi minyak mentah ekonomi amerika
Nia Deviyana • 26 Desember 2018 07:02
New York: Pada tahun ini, Amerika Serikat (AS) menjadi produsen minyak mentah terbesar di dunia melampaui Arab Saudi dan Rusia. Negara adidaya ini juga berencana mengekspor sumber daya energi beserta teknologinya ke negara lain. Namun, benarkah AS telah mencapai kemandirian di bidang energi?
 
Produksi minyak mentah AS, terutama dari kelas light sweet meningkat pesat sejak 2011. Menurut Badan Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, produksi minyak mentah AS melampaui Arab Saudi untuk pertama kalinya selama lebih dari dua dekade pada Februari 2018.
 
Begitu juga pada Juni dan Agustus, produksi minyak mentah AS melampaui Rusia untuk pertama kalinya sejak Februari 1999. EIA memperkirakan produksi minyak mentah AS bisa mencapai rata-rata 11,5 juta barel per hari (bph) pada 2019, meningkat dari 10,7 juta bph pada 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya, penurunan harga minyak pada pertengahan 2014 telah mengakibatkan produsen AS mengurangi biaya produksi minyak mentah untuk sementara waktu. Namun, setelah harga minyak mentah naik pada awal 2016, investasi dan produksi mulai ditingkatkan kembali.
 
Bersamaan dengan jumlah produksi yang lebih tinggi, ekspor minyak mentah AS naik stabil pada 2018. AS lebih banyak mengekspor minyak mentah dan produk-produknya dibandingkan mengimpor selama seminggu, dari 24 November hingga 30 November 2018. Ini pertama kalinya AS mengekspor daripada mengimpor dalam data mingguan sejak 1991.
 

 
Selama minggu ini, AS mengekspor sekitar 3,2 juta barel minyak mentah per hari dan 5,8 juta barel per hari dari produk minyak bumi seperti bahan bakar distilasi, minyak motor, dan propana. EIA memaparkan adanya tren jangka panjang dari penurunan impor minyak mentah oleh AS. Di lain sisi, ekspor produk minyak bumi serta minyak mentah meningkat.
 
Pada saat yang sama, operasi kapasitas pengilangan AS telah mencapai rekor tertinggi. Peningkatan produksi kilang produk minyak bumi telah melampaui pertumbuhan konsumsi produk minyak AS, yang mengarah ke peningkatan ekspor produk minyak bumi.
 
Edward Hirs, Energy Research Fellow di University of Houston optimistis ekonomi AS dapat menikmati manfaat dari menjadi produsen minyak mentah nomor satu di dunia. Bagi perekonomian AS untuk memiliki industri yang tumbuh seperti ini sangat menguntungkan.
 
"Texas sekarang memproduksi 4,5 juta barel per hari. Lima tahun lalu hanya 1 juta barel per hari. Secara strategis itu mengurangi ketergantungan AS pada produsen luar negeri," kata Hirs seperti dilansir Xinhua, Rabu, 26 Desember 2018.
 
Selama pertemuan tahunan energi tingkat tinggi CERAWeek, Sekretaris Energi Rick Perry menekankan bahwa AS terus menjaga keamanan energi yang menjadi peta jalan menuju kemakmuran ekonomi.
 
Menurutnya AS kini merangkul realisme energi baru dengan bantuan inovasi industri dan peningkatan teknologi, yang bersandar pada kenyataan AS kini berada di tengah revolusi energi yang luar biasa.
 

 
"Proses dramatis ini merupakan terobosan yang menentukkan sejak 1970-an, ketika Amerika Serikat mengikuti kebijakan yang cacat," kata Perry.
 
Kendati demikian, benarkah AS sudah mencapai kemandirian di sektor energi?
 
Para pakar di bidang energi menilai prestasi AS sebagai kinerja yang positif, tetapi bagi ekonomi negara tersebut secara keseluruhan itu bukan pencapaian besar. Terutama karena AS juga masih banyak mengimpor minyak.
 
"Amerika Serikat masih menjadi importir produk minyak dan (minyak bumi). Artinya, ketika harga (minyak) turun, manfaatnya bagi Amerika Serikat juga tidak besar. Namun ketika harga naik, hal baiknya AS tidak terpengaruh secara negatif," kata Michael Maher, penasihat senior di Pusat Studi Energi Rice University's Baker Institute for Public Policy.
 
Pendapat Maher disetujui Hirs, yang sepakat bahwa AS belum mencapai kemandirian energi, setidaknya tidak dari perspektif strategis atau dari perspektif ekonomi. "Amerika Serikat masih merupakan importir bersih minyak. Jadi apapun yang terjadi di pasar dunia memiliki dampak langsung pada pasar minyak dan gas AS," kata Hirs.
 
Biaya Produksi Tinggi
 
Sepanjang 2018 telah terjadi penurunan tajam harga minyak dari hampir USD80 per barel menjadi sekitar USD50 per barel. Volatilitas pasar minyak dunia menjadi pengganjal bagi AS untuk menjadi produsen minyak terbesar. Meski tidak lagi hanya bergantung pada minyak dari Timur Tengah, negara itu masih memiliki kepentingan dalam stabilitas di kawasan tersebut.
 
Hirs menjelaskan kenapa AS tidak bertindak sebagai pemain utama untuk mengubah pasar global, tak lain karena AS tergolong produsen minyak berbiaya tinggi dibandingkan dengan OPEC. Teluk Meksiko adalah tempat berbiaya tinggi untuk menghasilkan minyak. Jadi AS tidak bersaing dengan minyak berbiaya rendah.
 
"AS adalah produsen marjinal. Selama OPEC dan Rusia berupaya mempertahankan harga tinggi, maka produsen minyak AS masih bisa mencari nafkah," katanya.
 
Amerika Serikat bergantung pada OPEC untuk menyediakan minyak yang lebih murah sejak 1974, membuat Amerika Serikat rentan terhadap gangguan pasokan dan manipulasi pasar oleh OPEC. Sementara menurut Maher, Tiongkok adalah faktor lain yang berdampak pada industri energi ASdan pasar minyak global.
 
"Ketika ekonomi Tiongkok dan pasar globalnya telah tumbuh, Tiongkok juga memiliki kepentingan untuk memastikan ada stabilitas di Timur Tengah," kata Maher. Dalam hal ini, permintaan minyak Tiongkok menjadi hal yang sangat penting bagi AS karena berpengaruh pada pertumbuhan pasar minyak dunia.
 

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif