Analis: Trump Tingkatkan Ancaman Dagang, Pasar Waspada
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (FOTO: AFP)
Jakarta: Investor di seluruh dunia pada perdagangan minggu ini menghindari aset berisiko setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melipatgandakan ancaman tarif kepada Tiongkok, Jumat pekan lalu.

Trump mengancam memberlakukan tarif tambahan sebesar USD267 miliar terhadap barang dari Tiongkok dan tindakan ini semakin memperburuk hubungan AS-Tiongkok. AS siap memberlakukan tarif pada USD200 miliar barang Tiongkok dan Beijing menekankan ancaman bahwa Pemerintah Tiongkok akan membalasnya.

"Perang dagang AS-Tiongkok semakin memanas. Kekhawatiran akan terjadi perang dagang besar-besaran antara dua ekonomi terbesar dunia dapat memicu penghindaran risiko, sehingga menghantam saham global dan pasar berkembang," ujar Research Analyst FXTM Lukman Otunuga dalam hasil risetnya, Rabu, 12 September 2018.

Baca: AS-Tiongkok Dinilai Dorong Perlambatan dalam Pertumbuhan Ekonomi Global

Selain itu pasar berkembang tampaknya akan tetap melemah karena ketegangan dagang global, dolar yang menguat secara luas, dan prospek kenaikan suku bunga AS. Krisis di Turki dan Argentina dikhawatirkan akan menular ke wilayah lain, sehingga selera terhadap aset dan mata uang pasar berkembang akan semakin merosot.

Prospek mata uang pasar berkembang tetap cenderung menurun di jangka pendek, terutama mata uang negara yang memiliki defisit transaksi berjalan yang besar.

Harga Emas Lesu

Di sisi lain, harga emas kesulitan mempertahankan pesona safe haven tahun ini walaupun ketegangan dagang global yang semakin memburuk menekan optimisme investor serta memicu penghindaran risiko.

Menurut dia, aksi pasar bearish di beberapa bulan terakhir menyoroti bahwa arah emas tetap sangat dipengaruhi oleh kinerja dolar. Mata uang Paman Sam ini didukung oleh ekspektasi kenaikan suku bunga AS, sehingga logam mulia ini mungkin akan terus melemah.

"Perlu diperhatikan bahwa dolar AS telah mencuri pesona safe haven emas, terlihat dari fakta bahwa investor kini berpaling ke dolar di saat ketidakpastian meningkat. Meninjau bahwa permintaan emas di pasar berkembang juga dipengaruhi oleh dolar dan ketegangan dagang global, dapat dipahami mengapa harga emas tetap sangat tertekan," jelas dia.


Adapun prospek emas di jangka pendek dan menengah tetap ditentukan oleh kinerja dolar, spekulasi kenaikan suku bunga, dan perkembangan dagang global. Federal Reserve akan menaikkan suku bunga di September dan mungkin Desember, sehingga emas dapat semakin melemah dengan level penting berikutnya adalah USD1.185 dan USD1.160.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id