Ilustrasi (AFP/Johannes EISELE)
Ilustrasi (AFP/Johannes EISELE)

Tiongkok-AS Akhiri Perundingan Dagang dengan Kemajuan Substansial

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
25 Februari 2019 10:30
Washington: Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) berhasil mencapai kemajuan substansial tentang masalah-masalah spesifik setelah putaran terakhir perundingan ekonomi dan perdagangan tingkat tinggi mereka di Washington. Pencapaian ini diharapkan memberi efek positif dengan berhentinya perang dagang di antara kedua negara.
 
Selama pembicaraan 21-24 Februari, putaran ketujuh sejak Februari tahun lalu, negosiator Tiongkok dan Amerika Serikat selanjutnya menerapkan konsensus penting yang dicapai oleh Presiden kedua negara selama pertemuan Desember mereka di Argentina, dan memfokuskan pembicaraan mereka pada teks sebuah persetujuan.
 
Mengutip Antara, Senin, 25 Februari 2019, delegasi Tiongkok mengatakan bahwa kemajuan substansial telah dibuat pada masalah-masalah spesifik seperti transfer teknologi, perlindungan hak kekayaan intelektual, hambatan non-tarif, industri jasa-jasa, pertanian dan nilai tukar.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Atas dasar kemajuan terakhir, kedua belah pihak akan melanjutkan pekerjaan mereka untuk tahap berikutnya sesuai dengan instruksi dari kepala negara kedua negara," tambah delegasi Tiongkok.
 
Tim Tiongkok dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He, yang juga datang sebagai utusan khusus Presiden Tiongkok Xi Jinping, dan tim Amerika Serikat dipimpin oleh Perwakilan Dagang Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin.
 
Sementara itu, CEO BlackRock Larry Fink menilai hasil dari perang dagang dan negosiasi yang sedang berlangsung antara dua ekonomi terbesar di dunia adalah bahaya yang mengancam. Meski demikian, dampaknya tidak langsung terhadap aktivitas perekonomian atau pertumbuhan.
 
Ancaman yang diutarakan Fink tidak banyak dibicarakan, tetapi perlu dikemukakan karena perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok bisa memberi efek jangka panjang terhadap obligasi Pemerintah AS. Perang dagang yang sedang terjadi perlu dihentikan demi kepentingan bersama.
 
"Apa yang membuat saya khawatir tentang percakapan antara AS dan Tiongkok adalah Tiongkok memiliki kumpulan USD1,3 triliun atas obligasi Pemerintah AS. Mereka telah mengakumulasi surat utang tersebut karena defisit perdagangan," kata Fink.
 
"Sekarang karena Tiongkok mengurangi defisit perdagangannya dengan AS, kemungkinan mereka mengurangi kebutuhan secara besar atas surat utang Pemerintah AS," tambahnya.
 
Tiongkok adalah pembeli terbesar utang negara AS. Pada Januari, laporan media mengungkapkan bahwa para pejabat di Beijing merekomendasikan Pemerintah Tiongkok untuk menurunkan atau bahkan menghentikan pembelian surat utang AS. Langkah ini sejalan dengan perang dagang yang sedang terjadi.
 
Prospek itu adalah sesuatu yang oleh para analis pasar gambarkan sebagai ancaman besar bagi pasar, karena kebutuhan keuangan surat utang naik secara signifikan pada 2018 dan diproyeksikan terus meningkat lebih tajam daripada beberapa tahun terakhir.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif