NEWSTICKER
ilustrasi - - Foto: AFP
ilustrasi - - Foto: AFP

Wall Street Terseret Jatuh di Akhir Pekan

Ekonomi wall street
Antara • 22 Februari 2020 09:00
New York: Wall Street terseret jatuh dengan persentase harian terburuk dalam tiga pekan terakhir pada akhir perdagangan Jumat (Jumat pagi WIB). Bursa saham AS dilanda aksi jual karena lonjakan kasus virus korona baru yang memicu kekhawatiran investor tentang pertumbuhan ekonomi.

Penurunan saham terbesar berada di sektor teknologi dalam sesi kedua berturut-turut. Saham-saham teknologi kelas berat, Microsoft Corp, Amazon.com Inc, dan Apple Inc tercatat anjlok dan menyeret S&P 500.
 
Indeks teknologi S&P jatuh 2,3 persen. Pembuat cip, yang memiliki ikatan kuat dengan Tiongkok, juga turun drastis. Indeks Semikonduktor Philadelphia pun berakhir turun tiga persen.
 
Namun indeks volatilitas CBOE meningkat, dan menyebabkan investor mencari aset safe haven. Indeks VIX, sebutan lain untuk indeks volatilitas CBOE, mencapai level penutupan tertinggi sejak 3 Februari.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Harga emas dan obligasi melonjak dan beberapa sektor ekuitas defensif, termasuk kebutuhan pokok menjadi mahal.
 
Indeks Manajer Pembelian IHS Markit dari aktivitas sektor jasa turun ke level terendah sejak Oktober 2013, menandakan kontraksi untuk pertama kalinya sejak 2016. Sektor manufaktur juga mencatatkan angka terendah sejak Agustus.

 
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 227,57 poin atau 0,78 persen menjadi 28.992,41 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 35,48 poin atau 1,05 persen menjadi 3.337,75 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup jatuh 174,38 poin atau 1,79 persen menjadi 9.576,59 poin.
 
Untuk minggu ini, Dow Jones turun 1,4 persen dan S&P 500 kehilangan 1,3 persen. Nasdaq turun 1,6 persen, persentase penurunan mingguan terbesar dalam tiga minggu terakhir.
 
Harapan pelonggaran moneter oleh bank-bank sentral utama telah mendorong S&P 500 dan Nasdaq ke level tertinggi sepanjang masa awal pekan ini.
 
Volume transaksi di bursa AS mencapai 8,28 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 7,66 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.
 
Adapun Tiongkok melaporkan lompatan dalam kasus baru pada Jumat 21 Februari 2.236 kasus, sementara Korea Selatan menjadi hot spot terbaru, dengan 100 kasus baru, dan lebih dari 80 orang dinyatakan positif terkena virus di Jepang.
 
"Ini membuat wild card (pengaruhnya tidak dapat diprediksi) untuk perusahaan dan investor," kata Presiden Chase Investment Counsel, Peter Tuz di Charlottesville, Virginia, dikutip Antara, Sabtu, 22 Februari 2020.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif