Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)
Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)

Tiongkok Luncurkan Serangkaian Kebijakan

Ekonomi ekonomi china tiongkok
Nia Deviyana • 26 Desember 2018 09:45
Jakarta: Tiongkok tidak akan menggunakan stimulus yang kuat dalam kebijakan moneter tahun depan, meskipun akan mempertimbangkan pemotongan rasio cadangan sesuai kebutuhan untuk dialokasikan di bank komersial.

Ekonomi Tiongkok akan menghadapi tekanan ke bawah pada 2019, sementara laju pertumbuhan akan berangsur-angsur stabil, kata penasehat Bank Sentral Tiongkok (PBoC) Sheng Songcheng.

Untuk menangkal perlambatan tajam, Tiongkok telah meluncurkan serangkaian kebijakan tahun ini, termasuk empat kali pemotongan rasio persyaratan cadangan untuk meningkatkan pinjaman, penerapan pajak dan biaya yang lebih rendah, serta fokus pada proyek infrastruktur jalur cepat.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Bank sentral Tiongkok atau PBoC sejauh ini menahan diri dari pemotongan suku bunga acuan, yang berpotensi merusak upaya Tiongkok dalam mengendalikan utang yang tinggi dan menekan mata uang yuan. Sebagai gantinya, PBoC pada minggu lalu meluncurkan fasilitas pinjaman jangka menengah yang ditargetkan untuk meningkatkan rasio kredit. Pada Senin lalu, Dewan Negara dan Kabinet dalam pertemuan rutinnya mengatakan bahwa Tiongkok akan memperbaiki kebijakan pemotongan rasio cadangan sembari menerapkan lebih banyak pengurangan pajak.

"Kebijakan moneter akan tetap wajar. Kalau tidak, dana kemungkinan akan mengalir ke sektor properti lagi," kata Sheng seperti dilansir CNBC, Rabu, 26 Desember 2018.

Pemberlakuan kebijakan juga dilakukan secara hati-hati untuk pemberian kredit secara luas, yang dikhawatirkan bakal berimbas pada kenaikan harga di pasar real estate Tiongkok yang saat ini sudah tinggi.

China Securities Journal, media yang dikendalikan negara, sebelumnya menulis bahwa PBoC kemungkinan menurunkan rasio cadangan untuk bank sebanyak tiga kali tahun depan untuk memacu pinjaman.

Sheng mengatakan, Tiongkok juga akan menerapkan kebijakan fiskal proaktif pada 2019, dengan rasio defisit anggaran pemerintah cenderung naik, dari 2,6 persen pada tahun ini menjadi tiga persen tahun depan.

Pada nilai tukar, penasihat bank sentral menyarankan bahwa Tiongkok harus mempertahankan yuan pada level kunci tujuh per dolar. "Ambang batas utama tujuh per dolar sangat penting. Jika yuan melemah melewati titik krusial itu, biaya menstabilkan nilai tukar akan lebih besar," kata Sheng.

Sementara itu, sumber lain yang bersinggungan dengan kebijakan mengatakan bahwa pada Oktober tahun depan, Tiongkok kemungkinan akan menggunakan cadangan mata uangnya untuk menghentikan penurunan tajam agar tidak menembus batas psikologis tujuh yuan terhadap USD.

 


(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi