Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq.

Deputi BI Cermati Tiga Hal dalam Perekonomian Global

Ekonomi bank indonesia ekonomi global
Daviq Umar Al Faruq • 14 Januari 2019 19:46
Malang: Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng mengatakan terdapat tiga hal penting yang perlu dicermati pada perekonomian global. Pertama, pertumbuhan ekonomi dunia yang cukup tinggi pada 2018, dan kemungkinan masih akan berlanjut pada 2019.
 
Kedua, kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang akan diikuti oleh normalisasi kebijakan moneter di Uni Eropa dan negara-negara maju lainnya. Ketiga adalah adanya ketidakpastian di pasar keuangan global yang mendorong tingginya premi risiko investasi ke negara-negara emerging markets.
 
"Ketiga hal tersebut mendorong kuatnya mata uang dolar AS, serta berdampak pada pembalikan modal asing dan pelemahan mata uang negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia," katanya di Malang, Senin, 14 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sugeng menjelaskan 2018 merupakan tahun yang penuh tantangan. Pasalnya perekonomian global saat itu tumbuh tidak merata dan penuh ketidakpastian.
 
"Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut pada 2019," ujarnya.
 
Hanya saja, menurut Sugeng, Indonesia patut bersyukur di tengah perkembangan ekonomi global yang tidak kondusif. Sebab, kinerja dan prospek ekonomi Indonesia masih cukup baik.
 
"Stabilitas terjaga dan momentum pertumbuhan akan berlanjut," tuturnya.
 
Bahkan, pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di 2018 diperkirakan meningkat di 2019 yang ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, baik konsumsi maupun investasi. Inflasi yang rendah pada 2018 akan tetap terkendali sesuai sasaran 3,5+1 persen di 2019.
 
"Rupiah diperkirakan bergerak stabil sesuai mekanisme pasar," tegasnya.
 
Sementara itu, stabilitas rupiah ditopang pula oleh penurunan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih aman. Stabilitas sistem keuangan terjaga, dan kenaikan kredit akan berlanjut di 2019 dengan likuiditas yang cukup, disertai pembiayaan pasar modal yang juga akan meningkat.
 
Di sisi lain, Sugeng, menyampaikan bauran kebijakan Bank Indonesia yang telah ditempuh pada 2018 akan terus diperkuat pada tahun ini. Hal itu untuk menghadapi sejumlah tantangan ke depan.
 
"Kebijakan moneter akan tetap difokuskan pada stabilitas, khususnya pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya," ungkapnya.
 
Sedangkan, kebijakan yang akomodatif akan terus ditempuh di bidang makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan serta ekonomi keuangan syariah untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan.
 
Sugeng menambahkan, sinergi adalah kunci untuk memperkuat ketahanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dengan Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan dengan mitra kerja lainnya juga akan semakin diperkuat.
 
Sinergi kebijakan tersebut antara lain dalam hal pengendalian inflasi, perbaikan struktur perekonomian, stabilitas sistem keuangan, pendalaman pasar keuangan, serta ekonomi dan keuangan digital.
 
"Oleh karena itu, kami berpesan kepada pimpinan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang untuk senantiasa memperkuat sinergi dan koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan seluruh mitra strategis lain dalam pelaksanaan tugasnya," urainya.
 
Penguatan sinergi dan koordinasi dalam pengendalian inflasi melalui TPID agar difokuskan pada aspek 4K yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan koordinasi efektif.
 
Sedangkan penguatan sinergi dan koordinasi untuk perbaikan struktur perekonomian dilakukan melalui Rakorpusda maupun koordinasi bentuk lain yang difokuskan pada perbaikan defisit transaksi berjalan, pembiayaan investasi serta pengembangan ekonomi dan keuangan digital.
 
"Selain itu, pemberdayaan sektor riil dan keuangan inklusif perlu dilanjutkan dengan penekanan pada klaster pangan dan pengembangan UMKM serta perluasan akses keuangan bagi masyarakat," terangnya.
 
Dia menekankan pengembangan klaster pangan yang dilakukan selama ini merupakan bagian dari kebijakan Bank Indonesia dalam menjalankan mandat pengendalian inflasi.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif