Ilustrasi (TED ALJIBE/AFP)
Ilustrasi (TED ALJIBE/AFP)

Dolar AS Perkasa

Ekonomi dolar as
22 Maret 2019 09:31
New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) perkasa terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), di tengah kemerosotan poundsterling karena kekhawatiran luas bahwa Brexit tanpa kesepakatan.
 
Mengutip Antara, Jumat, 22 Maret 2019, pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1353 dari USD1,1445 pada sesi sebelumnya. Pound Inggris turun menjadi USD1,3075 dari USD1,3245 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,7107 dari USD0,7142.
 
Kemudian USD dibeli 110,77 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 110,62 yen Jepang pada sesi sebelumnya. USD naik menjadi 0,9937 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9900 franc Swiss, dan menguat menjadi 1,3376 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3269 dolar Kanada.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Para pemimpin Uni Eropa (UE) berkumpul pada Kamis waktu setempat di Brussel untuk membentuk tanggapan bersama terhadap permintaan Perdana Menteri Inggris Teresa May selama pertemuan puncak 24 jam Dewan Eropa.
 
Setelah persetujuannya tentang perceraian dengan blok Eropa dua kali ditolak oleh Parlemen Inggris, May menuntut Presiden Dewan Eropa Donald Tusk menunda Brexit hingga 30 Juni, dalam upaya lebih lanjut untuk membujuk para pembuat undang-undang di negaranya untuk mendukung kesepakatan Brexit-nya.
 
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa Inggris akan menghadapi keberangkatan yang mengganggu Uni Eropa, jika May kehilangan suara parlemen ketiga pada kesepakatan Brexit minggu depan. Indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,53 persen menjadi 96,271.
 
Indeks USD turun 0,6 persen pada Rabu waktu setempat, ditutup di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya dalam lebih dari 10 bulan, menyusul keputusan Federal Reserve AS menahan suku bunga acuannya tidak berubah.
 
Pada Rabu Federal Reserve (the Fed) mengambil sikap lebih dovish, menandakan ia tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini dalam menghadapi perlambatan ekonomi, sementara mengumumkan rencana untuk mengakhiri program pengurangan neracanya pada September.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif