2019, Suku Bunga AS Diyakini Naik 3 Kali
The Fed (AFP PHOTO/Brendan Smialowski)
London: Pertumbuhan ekonomi AS Amerika Serikat (AS) telah mencapai puncaknya, tetapi Federal Reserve (Fed) diperkirakan terus maju dengan tiga kenaikan suku bunga acuan di tahun depan, lembaga riset Inggris Oxford Economics mengatakan dalam sebuah laporan.

"Ketahanan tetap menjadi tema kunci bagi ekonomi AS usai pemilihan paruh waktu. Pertumbuhan PDB riil cenderung pada 3,0 persen pada kuartal keempat," kata laporan itu, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 23 November 2018.

Laporan itu mengungkapkan kebijakan-kebijakan headwinds dari pengurangan stimulus fiskal dan moneter, bersama dengan ketegangan perdagangan dengan Tiongkok akan mengekang momentum pada 2019. Tetapi ekonomi AS akan tetap dapat tumbuh 2,5 persen tahun depan.

Oxford Economics memproyeksikan ekonomi AS dapat berkembang 2,9 persen pada 2018, dan melambat menjadi 2,5 persen di tahun depan. Menurut Biro Statistik Ekonomi AS, ekonomi AS tumbuh pada laju tahunan 3,5 persen pada kuartal ketiga dan 4,2 persen pada kuartal kedua tahun ini,

The Fed telah menaikkan suku bunga acuan untuk ketiga kalinya tahun ini pada September, dan juga mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lainnya pada Desember. Untuk zona euro yang beranggotakan 19 negara, think tank itu menurunkan prediksi PDB 2018 menjadi 1,9 persen, setelah mencatat pertumbuhan yang lemah pada kuartal ketiga.

PDB zona euro naik hanya 0,2 persen di kuartal ketiga, sebagian besar mencerminkan pelemahan sementara di Jerman. "Kami memperkirakan rebound di kuartal keempat, dengan perkiraan PDB 2018 dan 2019 direvisi sedikit lebih rendah menjadi masing-masing 1,9 persen dan 1,6 persen," katanya.

Oxford Economics juga memperkirakan perlambatan moderat dalam pertumbuhan ekonomi global, menurun dari 3,1 persen pada 2018 menjadi 2,8 persen pada 2019, dan lebih jauh turun menjadi 2,7 persen pada 2020.

"Perkiraan kami PDB global pada kuartal ketiga (2018) menunjukkan bahwa pertumbuhan triwulanan menurun dari 0,9 persen pada kuartal kedua menjadi 0,7 persen di kuartal ketiga - hasil terlemah sejak kuartal ketiga 2016," kata Oxford Economics.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id