Alasan Era Kejayaan Minyak Belum Berakhir
Ilustrasi. (Foto: Antara/Adimaja).
New York: Para ekonom ingin mengatakan obat terbaik untuk harga tinggi adalah harga minyak. Dalam kasus minyak beberapa tahun terakhir, pepatah sering kali benar. Bertahun-tahun harga minyak meningkat hingga 2014, ketika minyak mentah Brent berjangka diperdagangkan di atas USD100 per barel.

Kenaikan harga minyak mentah Brent tersebut membantu mendorong efisiensi di industri dan sektor energi lainnya, tetapi pada akhirnya menyebabkan pasokan melimpah dan harga pun anjlok. Kondisi itu akhirnya mendorong sejumlah pihak, terutama negara anggota OPEC, berusaha lebih keras kembali mengangkat harga minyak dunia.

"Era harga minyak yang tinggi telah mendorong inovasi di seluruh tempat, terutama dalam hal serpih, tetapi juga memungkinkan operator minyak untuk membuat risiko yang jauh lebih besar," kata Mitra Pendiri Again Capital John Kilduff, seperti dikutip dari CNBC, Senin, 16 April 2018.

Sekarang, harga minyak kembali naik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah. Lonjakan dan gejolak harga baru-baru ini dapat berfungsi sebagai pengingat akan manfaat sumber energi alternatif yang lebih murah. Tetapi ketika investasi di bidang energi terbarukan mengembang, banyak ahli sepakat era minyak masih memiliki ruang untuk dijalankan.

"Saya pikir (kejayaan) minyak punya empat atau lima dekade lagi. Perubahan akan datang, tetapi ini akan memakan waktu," tambah Direktur Eksekutif Fuels Institute John Eichberger.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak akan terus tumbuh hingga 2040, didorong oleh pasar negara berkembang seperti India dan industri seperti truk, petrokimia, penerbangan, dan pengiriman. Tetapi, IEA mengatakan, energi terbarukan dan gas alam menangkap bagian yang semakin meningkat dari permintaan energi global.

"Anda harus melihat Tiongkok karena pertanyaannya adalah seberapa banyak loncatan yang mereka bisa lakukan untuk melompati," kata Kepala Analisis Energi global OPIS Tom Kloza, sebuah perusahaan yang memberikan informasi harga minyak.

IEA mengharapkan satu dari setiap empat kendaraan di jalan di Tiongkok menjadi listrik pada 2040. Ini memproyeksikan armada mobil listrik global mencapai 280 juta pada saat itu, naik dari sekitar dua juta hari ini. Pergeseran besar menuju kendaraan listrik dapat memiliki implikasi besar terhadap minyak, yang menjadi bahan bakar lebih dari separuh transportasi dunia.

"Kendaraan listrik akan bersaing dan mungkin mengalahkan pembakaran internal dengan cepat, yang akan memberi konsumen pilihan," kata Eichberger.

Namun, dia memperingatkan, ketika penjualan kendaraan listrik meningkat, itu akan memakan waktu puluhan tahun guna membangun infrastruktur bagi mereka untuk menyalip mobil bensin. Analis menunjukkan kekhawatiran atas penyimpanan dan biaya baterai. Kecuali harga minyak terus naik, konsumen mungkin belum tergoda untuk beralih.

"Anda mendapatkan begitu banyak uang dengan bensin," pungkas Kloza.



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360