Ilustrasi (AFP/Ed Jones)
Ilustrasi (AFP/Ed Jones)

Perang Dagang AS-Tiongkok Berpeluang Memburuk

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
Angga Bratadharma • 25 Mei 2019 14:03
New York: Ada lebih banyak kesedihan di masa depan bagi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok karena perselisihan perdagangan bilateral terus berlanjut. Tentu kondisi ini bisa memberikan katalis negatif tidak hanya terhadap kedua negara, juga berimbas ke pertumbuhan ekonomi dunia.
 
"Ini akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik," kata Curtis Chin, seorang peneliti Asia di Milken Institute, sebuah lembaga think tank, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 25 Mei 2019.
 
Pembicaraan untuk mengakhiri sengketa perdagangan yang sedang berlangsung diyakini telah mundur dari harapan karena munculnya hambatan baru. Hambatan itu yakni pengenaan tarif baru dari AS dan dibalas dengan tindakan serupa oleh Tiongkok. Kondisi tersebut yang akhirnya membuat hubungan di antara keduanya kembali memburuk.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun hubungan antara kedua negara Adidaya ekonomi tersebut memburuk awal bulan ini ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia akan meningkatkan tarif barang USD200 miliar barang dari 10 persen menjadi 25 persen. Sedangkan Tiongkok tidak diam begitu saja dan merespons dengan menaikkan tarif atas barang-barang AS sebesar USD60 miliar.
 
"Namun, ketegangan antara Tiongkok dan AS -serta bagian lain dunia- tidak berkembang baru-baru ini dan akan membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya. Ini benar-benar mencerminkan penyesuaian dari kebangkitan Tiongkok dan bagaimana Tiongkok berperilaku ketika tidak lagi sebagai negara miskin di 20 atau 30 tahun yang lalu," kata Chin.
 
Sebelumnya, ketika ketegangan perdagangan dengan AS kembali meningkat, Tiongkok memutuskan untuk menjual kepemilikan surat utang AS dengan laju tercepat dalam sekitar dua tahun selama Maret. Pemilik terbesar atas utang AS itu mengurangi tingkat utangnya sebesar USD20,5 miliar.
 
Penurunan itu membuat total kepemilikan surat utang AS oleh Tiongkok menjadi USD1,12 triliun. Namun langkah tersebut merupakan pola penurunan yang terus berlanjut karena kedua belah pihak tidak dapat menuntaskan perjanjian perdagangan jangka panjang. Sebaliknya keduanya terlibat dalam pertarungan tarif yang semakin meningkat di beberapa hari terakhir.
 
Dalam periode 12 bulan yang berakhir Maret, bulan terakhir di mana data tersedia, persediaan surat utang Pemerintah AS, obligasi, dan tagihan AS turun USD67,2 miliar atau 5,6 persen. Totalnya turun sekitar USD200 miliar sejak puncaknya pada 2012 dan sekarang mewakili tujuh persen dari total utang AS yang terutang, dibandingkan dengan sebelumnya sebesar 12 persen.
 
Adapun ancaman untuk tidak membeli surat utang AS atau terlibat dalam penjualan langsung telah mengguncang pasar obligasi sebelumnya. Selain tindakan hukuman yang mungkin dilakukan Tiongkok, diperkirakan Tiongkok juga telah mengurangi kepemilikannya dalam upaya untuk mempertahankan mata uangnya.
 
Tindakan yang lebih agresif untuk memotong kepemilikan dianggap sebagai opsi yang dapat semakin memperburuk negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung. Namun, dampak dari setiap gerakan semacam itu tidak jelas.
 
UBS memperkirakan bahwa jika pengurangan kepemilikan surat utang terjadi secara bertahap, kemungkinan akan menghasilkan kenaikan dalam benchmark surat utang 10 tahun paling banyak 0,4 poin. Tidak ditampik, penjualan surat utang oleh Tiongkok bisa memberikan efek tersendiri.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif