Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

Minyak Dunia Melemah Usai Kesepakatan Dagang AS-Tiongkok

Ekonomi minyak mentah
Antara • 16 Januari 2020 08:01
New York: Harga minyak dunia turun sedikit pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), tertekan oleh data yang menunjukkan peningkatan besar dalam produk-produk olahan Amerika Serikat (AS). Akan tetapi memulihkan beberapa kerugiannya menyusul penandatanganan perjanjian perdagangan fase satu antara Washington dan Beijing.
 
Mengutip Antara, Kamis, 16 Januari 2020, minyak mentah berjangka Brent kehilangan 49 sen atau 0,8 persen menjadi USD64 per barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) berakhir 42 sen atau 0,7 persen lebih rendah menjadi USD57,81 per barel.
 
"Dorongan bullish yang kami perkirakan dari laporan EIA mingguan hari ini gagal berkembang dan sebagai akibat, harga minyak tampak menuju level yang lebih rendah daripada yang kami perkirakan meskipun terjadi pemulihan di akhir sesi," kata Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch, dalam sebuah catatan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di bawah perjanjian perdagangan fase satu, Tiongkok akan membeli USD18,5 miliar lebih banyak dalam produk-produk energi AS di tahun pertama dan USD33,9 miliar di tahun kedua. Namun, para pedagang komoditas dan analis tetap berhati-hati dan berusaha keras untuk memetakan bagaimana Tiongkok akan mencapai jumlah yang menakjubkan itu.
 
Sedangkan Presiden AS Donald Trump mengaku akan menghapus semua tarif AS pada impor Tiongkok segera setelah kedua negara menyelesaikan fase dua dari perjanjian perdagangan mereka, seraya menambahkan ia tidak berharap akan ada pakta fase ketiga.
 
Analis Price Futures Group Phil Flynn mengatakan harga memangkas kerugian awal karena optimisme seputar kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok dan harapan bahwa permintaan minyak akan terus menjadi kuat.
 
Sebelumnya, harga minyak turun ke level terendah dalam lebih dari sebulan setelah pemerintah AS melaporkan kenaikan besar dalam persediaan bensin dan produk sulingan serta rekor produksi minyak mentah.
 
Stok bensin AS pekan lalu naik ke level tertinggi sejak Februari, sementara persediaan produk sulingan melonjak ke level tertinggi sejak September 2017, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA).
 
"Saya pikir mereka mampu melihat melampaui penumpukan (stok) bensin dan produk penyulingan, menyadari bahwa itu mungkin akan bekerja dengan sendirinya dalam beberapa minggu ke depan," pungkas Flynn.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif