Ilustrasi (FOTO: AFP)
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Reli Harga Minyak Dunia Terhenti

Ekonomi minyak mentah
16 April 2019 08:03
New York: Harga minyak dunia menghentikan relinya pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), dengan kedua acuan turun hampir satu persen. Hal itu terjadi setelah Menteri Keuangan Rusia mengatakan bahwa Rusia dan OPEC dapat memutuskan untuk meningkatkan produksi.
 
Langkah itu dilakukan guna bersaing memperebutkan lebih banyak pangsa pasar dengan Amerika Serikat (AS), di mana produksinya tetap pada rekor tertinggi. Kondisi semacam itu bukan tidak mungkin bisa memberikan efek terhadap melemahnya harga minyak dunia di kemudian hari.
 
Mengutip Antara, Selasa, 16 April 2019, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni turun USD0,37 atau 0,5 persen menjadi USD71,18 per barel di London ICE Futures Exchange, setelah sebelumnya turun di bawah USD71 per barel. Brent mencapai level tertinggi sejak 12 November pada Jumat 12 April di USD71,87 per barel.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun sebanyak USD0,49 atau 0,8 persen menjadi USD63,40 per barel di New York Mercantile Exchange.
 
Namun, penurunan harga-harga minyak dibatasi oleh pengetatan pasokan global, karena produksi telah turun di Iran dan Venezuela di tengah tanda-tanda Amerika Serikat (AS) akan semakin memperketat sanksi-sanksi terhadap dua produsen OPEC itu, dan di tengah ancaman bahwa pertempuran baru dapat menghapuskan produksi minyak mentah di Libya.
 
Harga minyak telah naik lebih dari 30 persen tahun ini, terutama karena kesepakatan oleh OPEC dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, untuk mengekang 1,2 juta barel per hari mulai 1 Januari selama enam bulan. Kelompok ini akan bertemu pada Juni untuk memutuskan apakah akan melanjutkan menahan pasokan.
 
Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengatakan pada akhir pekan bahwa Rusia dan OPEC dapat memutuskan untuk meningkatkan produksi guna memperjuangkan lebih banyak pangsa pasar dari Amerika Serikat, tetapi ini akan mendorong harga minyak ke serendah USD40 per barel.
 
"Ada dilema. Apa yang harus kita lakukan dengan OPEC: haruskah kita kehilangan pasar, yang sedang diduduki oleh Amerika, atau keluar dari kesepakatan?" kata Siluanov, yang berbicara di Washington, seperti dikutip kantor berita TASS.
 
"(Jika kesepakatan itu diabaikan) harga minyak akan turun, maka investasi baru akan menyusut, produksi Amerika akan lebih rendah, karena biaya produksi untuk minyak serpih lebih tinggi daripada untuk produksi tradisional," tambahnya.
 
Ia mengaku tidak tahu apakah negara-negara OPEC akan senang dengan skenario ini, pemimpin kelompok itu, Arab Saudi, dianggap tertarik untuk terus memotong produksi, tetapi sumber-sumber dalam OPEC mengatakan mereka dapat meningkatkan produksi mulai Juli jika gangguan di tempat lain berlanjut.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif