Petugas sedang memeriksa suhu tubuh seseorang di tengah merebaknya virus korona di stasiun kereta bawah tanah, Beijing, Tiongkok. FOTO: Getty Images/Kevin Frayer
Petugas sedang memeriksa suhu tubuh seseorang di tengah merebaknya virus korona di stasiun kereta bawah tanah, Beijing, Tiongkok. FOTO: Getty Images/Kevin Frayer

Virus Korona Kian Merebak

McDonald's hingga Starbucks Hentikan Operasional di Tiongkok

Ekonomi virus korona ekonomi china tiongkok
Angga Bratadharma • 28 Januari 2020 10:30
New York: Disney, McDonald's, Starbucks, dan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) lainnya yang memiliki keterkaitan bisnis di Tiongkok menangguhkan operasionalnya, merespons wabah virus korona. Virus ini sudah merenggut 82 nyawa di Tiongkok dan membuat 2.900 orang terinfeksi di seluruh dunia, termasuk di AS dan Eropa.
 
Pusat-Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mengonfirmasikan kasus kelima di AS. Presiden Donald Trump mengatakan AS telah menawarkan bantuan kepada Tiongkok. Pejabat kesehatan AS mengatakan mereka memantau 110 orang di 26 negara bagian terkait virus korona, termasuk lima pasien yang tertular infeksi di Tiongkok dan membawanya kembali ke AS.
 
Mengutip CNBC, Selasa, 28 Januari 2020, dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran virus, otoritas Tiongkok telah menangguhkan transportasi umum di Wuhan, pusat penyebaran, dan setidaknya sembilan kota lainnya. Langkah ini diharapkan menekan upaya penyebarannya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketika virus terus menyebar ke seluruh Tiongkok dan lintas perbatasan, virus itu menyerang bisnis di seluruh dunia. Pemerintah Kota Shanghai mengeluarkan pemberitahuan yang memerintahkan perusahaan untuk tidak melanjutkan pekerjaan setelah liburan Tahun Baru Tiongkok hingga 3 Februari, bukannya 31 Januari.
 
Akibatnya, bursa saham Shanghai akan tetap ditutup hingga 3 Februari. Semua tiga indeks utama AS turun lebih dari satu persen dalam perdagangan harian Senin waktu setempat (Selasa WIB), karena investor bereaksi terhadap wabah tersebut. Bukan tidak mungkin sentimen negatif kian dalam jika virus ini kian mengkhawatirkan.
 
"Sektor perjalanan berada pada risiko besar ketika ancaman kesehatan masyarakat seperti virus korona muncul," kata CEO Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia Gloria Guevara, yang juga menteri pariwisata untuk Meksiko selama wabah H1N1.
 
Guevara menilai sebagian besar konsekuensi dari wabah seperti ini disebabkan oleh kesalahan manajemen, kurangnya komunikasi, dan adanya respons panik. Dia menunjuk wabah SARS di 2003 sebagai salah satu contoh. Ia mengatakan bahwa biaya ekonomi global antara USD40 miliar dan USD60 miliar untuk menyelesaikan wabah tersebut.
 
"Manajemen krisis sangat penting. Mereka harus proaktif dan transparan. Mereka perlu bekerja sama dengan sektor swasta dan kita tidak perlu panik. Kami sepenuhnya mendukungnya, tetapi pada saat yang sama kita perlu melakukan pengukuran yang diperlukan untuk melindungi sektor (perjalanan) ini," ucapnya.
 
Setiap perusahaan AS merespons situasi dengan caranya masing-masing seperti menangguhkan operasi, membatasi perjalanan karyawan, membatalkan perayaan liburan, dan lainnya. Kesemuanya dilakukan agar tidak ada lagi yang tertular oleh virus korona.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif