Rencana Arab Saudi Berpeluang Gerus Harga Minyak
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Jakarta: Rencana Arab Saudi dan Rusia untuk membatalkan kesepakatan pengetatan output pada 22 Juni nanti berpeluang menjadi sentimen penurunan harga minyak menguji support USD66 per barel.

"Rentang potensial di sesi perdagangan Asia berada di level USD66-USD67,50 per barel," tutur hasil riset tim analis Monex Investindo Futures, Rabu, 30 Mei 2018.

Menurut riset tersebut, setelah melemah lebih dari USD6 dari level tertinggi pekan lalu di USD72,64, aksi bargain hunting membuat harga minyak pada Selasa waktu setempat berakhir naik 0,6 persen ke level USD66,87 per barel. Di mana harga saat penulisan USD66,76 per barel.

Arab Saudi dan Rusia telah membahas peningkatan produksi minyak OPEC dan non-OPEC sebesar satu juta barel per hari (bph) untuk melawan potensi kekurangan pasokan dari Venezuela dan Iran, menurut CNBC. Pasar minyak AS ditutup pada Senin 28 Mei untuk hari libur perayaan Memorial Day.


Sumber: Monex Investindo Futures

Mengutip Antara, Rabu, 30 Mei 2018, patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Juli, turun USD1,15 menjadi menetap di USD66,73 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli, bertambah USD0,09 menjadi ditutup pada USD75,39 per barel di London ICE Futures Exchange.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dapat memutuskan pada Juni untuk meningkatkan produksi mereka guna menutupi pengurangan pasokan dari Venezuela dan Iran yang dilanda krisis, setelah AS memutuskan menarik diri dari kesepakatan pengendalian senjata nuklir, lapor OPEC dan sumber industri minyak.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan, pemangkasan produksi dapat dikurangi dengan lembut jika negara-negara OPEC dan non-OPEC melihat keseimbangan pasar minyak pada Juni, kantor berita Interfax melaporkan.

Beberapa analis mengatakan bahwa sanksi AS terhadap Iran bisa menghapus satu juta barel per hari minyak mentah Iran dari pasar, sementara yang lain mengatakan dampaknya akan terbatas menjadi kurang dari 500 ribu barel per hari.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id