Minyak Brent Turun Jadi USD62,52/Barel
Ilustrasi (FOTO: AFP)
London: Harga minyak dunia turun pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), setelah persediaan Amerika Serikat (AS) membengkak ke level tertinggi sejak Desember. Kondisi itu menambah kekhawatiran tentang melimpahnya pasokan minyak mentah global, tetapi pembicaraan OPEC tentang pengurangan produksi membatasi kerugian.

Mengutip Antara, Jumat, 23 November 2018, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari, turun sebanyak 96 sen di perdagangan terakhir menjadi USD62,52 per barel pada pukul 18.40 GMT, mundur sedikit dari penurunan lebih dari USD1 pada awal perdagangan Eropa.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Januari turun lebih dari USD1, sebelum berkurang kembali menjadi menetap 78 sen lebih rendah pada posisi USD53,85 per barel. Perdagangan sangat tipis karena hari libur Thanksgiving pada Kamis 22 November di Amerika Serikat.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan minyak terbebas dari posisi terendahnya oleh USD yang lebih lemah, membuat minyak mentah berdenominasi USD lebih murah untuk pemegang mata uang lainnya. "Dukungan tambahan mungkin berasal dari ekspor Iran yang lebih rendah," kata dia.

Ekspor Iran telah turun beberapa ratus ribu barel per hari (bph) bulan ini, sebuah perusahaan pelacak tanker terkemuka mengatakan pada Kamis 22 November, menunjukkan sanksi-sanksi AS yang mulai berlaku bulan ini telah membuat takut banyak pembeli.

Tetapi harga tetap di bawah tekanan dari meningkatnya persediaan minyak mentah AS, yang naik 4,9 juta barel menjadi 446,91 juta barel pekan lalu, tertinggi sejak Desember, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan. Produksi minyak mentah AS juga tetap tinggal di rekor 11,7 juta barel per hari, kata EIA.

Analis PVM Tamas Varga mengatakan tren pasar tetap bearish. "Pertanyaannya adalah apa yang akan dilakukan OPEC pada Desember, apakah mereka akan memangkas (produksi), dan jika ya, seberapa banyak?," kata dia.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) khawatir tentang akan munculnya kembali banjir pasokan. Namun eksportir terbesar OPEC, Arab Saudi, berada di bawah tekanan AS untuk tidak mengambil tindakan apapun pada pemangkasan produksi yang akan mendorong harga lebih tinggi lagi.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id