Ekspor Jepang mengalami penurunan tertajam. Foto: AFP.
Ekspor Jepang mengalami penurunan tertajam. Foto: AFP.

Ekspor Jepang Catat Penurunan Tertajam

Ekonomi ekonomi jepang
Ade Hapsari Lestarini • 25 Mei 2020 11:04
Tokyo: Jepang mencatat penurunan ekspor tertajam pada April, dalam lebih dari 10 tahun karena pandemi covid-19. Permintaan luar negeri yang terus menurun di tengah penutupan bisnis global menjadi salah satu faktornya.
 
Menurut Departemen Keuangan Jepang, ekspor dalam periode tersebut anjlok 21,9 persen dari tahun sebelumnya menjadi 5,20 triliun yen atau setara USD48,24 miliar. Ini menandai penurunan selama 17 bulan berturut-turut.
 
Melansir Xinhua, Senin, 25 Mei 2020, data kementerian menunjukkan penurunan tersebut menandai penurunan paling tajam sebesar 23,2 persen sejak Oktober 2009, setelah krisis keuangan global.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara impor turun 7,2 persen menjadi 6,13 triliun yen, menandai penurunan berturut-turut selama 12 bulan. Penurunan ini karena pembelian minyak mentah dan batu bara yang menurun di antara sumber daya energi lainnya.
 
Selain itu defisit perdagangan barang Jepang mencapai 930,40 miliar yen pada periode perekaman, dengan angka berubah negatif untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.
 
Kemudian ekspor ke Amerika Serikat turun 37,8 persen menjadi 879,80 miliar yen, karena turunnya permintaan mobil dan mesin pesawat. Namun demikian impor dari Amerika Serikat naik 1,6 persen menjadi 698,63 miliar yen, yang mengarah ke defisit 181,17 miliar yen selama periode perekaman.
 
Selanjutnya ekspor ke Tiongkok, mitra dagang terbesar Jepang, turun 4,1 persen menjadi 1,18 triliun yen. Angka ini menandai penurunan empat bulan berturut-turut.
 
Adapun impor dari Tiongkok meningkat 11,7 persen menjadi 1,73 triliun yen, yang mengarah ke defisit perdagangan 552,60 miliar yen.
 
Sedangkan untuk seluruh Asia, termasuk Tiongkok, ekspor turun 11,4 persen. Sementara impor naik 2,2 persen, dengan defisit mencapai 27,04 miliar yen pada April.
 
Ekspor ke Uni Eropa juga jatuh 28,0 persen pada April menjadi 483,51 miliar yen. Sedangkan impor dari blok mata uang tunggal itu turun 6,8 persen menjadi 674,68 miliar yen sehingga menghasilkan defisit 191,18 miliar yen.
 
"Tentu saja, kami tidak berpikir pandemi virus akan segera berakhir, jadi ada kemungkinan bahwa efek negatif akan berlanjut pada Mei," kata seorang pejabat kementerian keuangan seperti dikutip dalam jumpa pers pers tentang masalah tersebut.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif