Ilustrasi. Foto : AFP.
Ilustrasi. Foto : AFP.

Bahaya Beban Utang bagi Investor di Negara Maju

Ekonomi investor virus corona Utang Covid-19
Arif Wicaksono • 22 November 2020 19:13
Singapura: Institute for International Finance (IIF) mencatat risiko yang dihadapi investor serta negara maju adalah utang yang meningkat selama pandemi virus korona.
 
Krisis virus korona mendorong tingkat utang global ke level tertinggi baru lebih dari USD272 triliun pada kuartal ketiga. Dikatakan utang global akan memecahkan rekor baru dalam beberapa bulan mendatang mencapai USD277 triliun pada akhir tahun.
 
Pemerintah secara global harus mengeluarkan banyak uang untuk langkah-langkah stimulus fiskal untuk mendukung konsumen dan bisnis saat pandemi melanda ekonomi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Direktur Pelaksana Inisiatif Kebijakan Global IIF Sonja Gibbs mengatakan salah satu area perhatian besar adalah di pasar negara maju. Mereka berjuang melawan pertumbuhan yang lambat dan peningkatan utang pada saat yang bersamaan.
 
"Di pasar (negara maju) yang matang, utang terus meningkat. Tidak ada pemerintah yang membuat jerami saat matahari bersinar. Dengan kata lain, ketika pertumbuhan kuat, pemerintah tidak menurunkan tingkat utangnya. Jadi mereka semakin tinggi," katanya dikutip dari CNBC, Minggu, 22 November 2020.
 
Selama pandemi, pemerintah dari pasar negara maju ini menghadapi pukulan ganda, mengalami pertumbuhan yang lemah sambil menumpuk utang dengan tambahan 50 persen.
 
Gibbs menambahkan dalam jangka panjang, risiko dari pasar yang matang adalah semacam stagflasi - pertumbuhan yang lemah, harus mempertahankan suku bunga rendah tanpa batas.
 
Investor terkena lebih banyak risiko karena utang meningkat, imbal hasil negatif terus berlanjut. Gibbs juga menandai meningkatnya bahaya bagi investor yang memilih berinvestasi di obligasi pemerintah demi stabilitas tradisional.
 
Tiongkok telah menjual obligasi pemerintah dengan imbal hasil negatif pertamanya minggu ini, menyusul Inggris yang juga melakukannya untuk pertama kalinya tahun ini di Mei. Utang pemerintah di Eropa dan Jepang telah lama ditawarkan dengan imbal hasil nol atau negatif, karena bank sentral secara global terus menurunkan suku bunga.
 
"Ini adalah salah satu risiko terbesar yang datang dengan utang yang terus-menerus tinggi dan terus bertambah. Anda melihat utang dengan imbal hasil negatif bahkan di Tiongkok. Anda memiliki situasi di mana Anda baru saja membangun distorsi yang luar biasa," kata Gibbs.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif