Ilustrasi. FOTO: Spencer Platt/AFP
Ilustrasi. FOTO: Spencer Platt/AFP

Covid-19 Melonjak: Indeks Dow-S&P Ambruk, Nasdaq Merekah

Ekonomi Wall Street ekonomi amerika
Angga Bratadharma • 28 Oktober 2020 07:43
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), karena investor terus khawatir tentang infeksi covid-19 yang melonjak di AS. Pada Senin waktu setempat (Selasa WIB), bursa saham Wall Street ditutup jatuh dengan Dow Jones anjlok 650 poin.
 
Mengutip Xinhua, Rabu, 28 Oktober 2020, indeks Dow Jones Industrial Average turun 222,19 poin atau 0,8 persen menjadi 27.463,19. Sedangkan S&P 500 turun 10,29 poin atau 0,3 persen menjadi 3.390,68. Kemudian indeks Komposit Nasdaq naik 72,41 poin atau 0,64 persen menjadi 11.431,35.
 
Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 turun, dengan sektor industri ditutup turun sebanyak 2,18 persen, memimpin penurunan. Kemudian sektor konsumen naik sebanyak 0,57 persen, grup dengan kinerja terbaik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih tinggi, dengan enam dari 10 saham teratas berdasarkan bobot dalam indeks 50 Tiongkok yang terdaftar di S&P AS mengakhiri hari dengan catatan optimistis.
 
Kondisi itu terjadi ketika kasus infeksi covid-19 menyebar ke seluruh Amerika Serikat dengan kecepatan tinggi. Menurut analisis data CNBC dari Universitas Johns Hopkins, kasus virus korona harian AS telah meningkat rata-rata hampir 70 ribu selama seminggu terakhir.
 
Negara itu telah melaporkan lebih dari 8,76 juta kasus covid-19 dengan jumlah kematian mencapai 226 ribu pada Selasa sore, berdasarkan penghitungan oleh Universitas Johns Hopkins. Angka ini tentu cukup mengkhawatirkan dan perlu upaya menghentikan penyebarannya.
 
"Ketidakpastian tentang pembatasan mobilitas terkait covid-19 dan politik AS mengartikan kita harus memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi untuk tahun ini. Namun, kami terus melihat kenaikan dalam jangka menengah," kata Chief Investment Officer UBS Global Wealth Management Mark Haefele dalam sebuah catatan.
 
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikeras perlunya melarang TikTok di negara itu karena masalah keamanan nasional. Hal ini ditegaskan dalam pengajuan pengadilan terbaru menjelang rencana pemblokiran aplikasi video itu pada 12 November 2020.
 
Pengajuan tersebut dilakukan saat pengadilan mempertimbangkan legalitas tawaran pemerintah untuk membuat aplikasi milik Tiongkok ini "hilang" dari AS. Tiktok sejauh ini memiliki 100 juta pengguna.
 
"Presiden tidak boleh dicegah untuk mengatur ancaman keamanan nasional hanya karena musuh asing menyelubungi aktivitasnya di dalam perusahaan media," kata pengajuan tersebut di pengadilan federal di Washington.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif