NEWSTICKER
Ilustrasi. FOTO: AFP/Julien MIVIELLE
Ilustrasi. FOTO: AFP/Julien MIVIELLE

Minyak AS Anjlok ke Level Terendah

Ekonomi minyak mentah
Antara • 19 Maret 2020 08:01
New York: Harga minyak dunia anjlok pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), dengan minyak mentah berjangka AS mencapai tingkat terendah 18 tahun. Kondisi itu karena pemerintah di seluruh dunia mempercepat penguncian (lockdown) untuk melawan pandemi covid-19 yang menyebabkan permintaan bahan bakar global jatuh.
 
Mengutip Antara, Kamis, 19 Maret 2020, minyak berjangka telah kehilangan lebih dari setengah nilainya dalam 10 hari terakhir, ketika sekolah-sekolah tutup, kegiatan bisnis berhenti dan pemerintah di seluruh dunia telah mendesak warga untuk membatasi pertemuan.
 
"Permintaan minyak global pada akhir Maret dapat turun sebanyak delapan juta hingga sembilan juta barel per hari (bph)," kata Goldman Sachs.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Investor secara luas meninggalkan aset-aset berisiko lagi pada Rabu waktu setempat, setelah pasar ekuitas pulih pada Senin, 16 Maret. Saham AS merosot, dengan S&P 500 merosot tujuh persen, memicu penghentian perdagangan selama 15 menit, sementara tembaga berjangka jatuh 6,9 persen.
 
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) anjlok USD6,58 atau 24,4 persen menjadi USD20,37 per barel. Minyak mentah berjangka AS telah kehilangan 56 persen selama 10 hari terakhir, dalam bentangan perdagangan 10 hari terburuk sejak kontrak diluncurkan pada 1983.
 
Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent jatuh USD3,85 atau 13,4 persen, menjadi ditutup di USD24,88 per barel, setelah merosot tajam ke posisi serendah USD24,52, tingkat terlemah sejak 2003.
 
"Pasar menurun. Pasar mencoba mencari titik terbawah dan sepertinya tidak dapat menemukannya. Ada ketakutan akan keruntuhan ekonomi karena apa yang diwakili oleh virus ini, secara global,” kata Wakil Presiden Penelitian Tradition Energy Gene McGillian, di Stamford, Connecticut.
 
Pasar minyak sudah terhuyung-huyung setelah Arab Saudi bulan ini memutuskan untuk secara dramatis meningkatkan pasokan ketika kerajaan itu dan Rusia tidak mencapai kesepakatan untuk memangkas produksi guna mengantisipasi permintaan yang lebih lemah.
 
Arab Saudi sejauh ini mengabaikan permohonan untuk bertindak menyeimbangkan pasar, mengulangi rencana untuk mempertahankan produksi lebih dari 12 juta barel per hari, yang akan menjadi rekor. Sedangkan minyak mentah berjangka AS turun bahkan setelah data mingguan AS menunjukkan penurunan yang signifikan dalam persediaan bensin dan solar.
 
"Segala sesuatunya berubah dengan sangat cepat -kami memiliki satu peristiwa ekstrem yang bertabrakan dengan yang lain," kata Wakil Presiden Penelitian Mobius Risk Group John Saucer, di Houston.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif