Foto: AFP.
Foto: AFP.

Saham Teknologi Topang Wall Street

Ekonomi Wall Street
Angga Bratadharma • 04 Agustus 2020 07:43
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) berakhir lebih tinggi pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), didukung oleh kenaikan kuat saham teknologi besar. Meski demikian, kasus infeksi virus korona yang terus meningkat membuat Wall Street tidak bisa melesat tajam.
 
Mengutip Xinhua, Selasa, 4 Agustus 2020, indeks Dow Jones Industrial Average naik 236,08 poin atau 0,89 persen menjadi 26.664,40. Sedangkan S&P 500 naik 23,49 poin atau 0,72 persen menjadi 3.294,61. Indeks Komposit Nasdaq meningkat 157,52 poin atau 1,47 persen menjadi 10.902,80.
 
Saham Microsoft melonjak 5,62 persen, memimpin kenaikan di Dow Jones. Sementara saham Apple berakhir 2,52 persen lebih tinggi, setelah melonjak lebih dari 10 persen pada Jumat. Perusahaan melaporkan hasil pendapatan yang dengan mudah melampaui perkiraan. Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor teknologi naik 2,49 persen, melampaui yang lainnya. Sedangkan sektor real estat tergelincir 1,47 persen, kelompok berkinerja terburuk.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS diperdagangkanlebih tinggi, dengan semua 10 saham teratas berdasarkan indeks S&P AS 50, mengakhiri hari dengan catatan optimistis.
 
Di sisi data, aktivitas ekonomi di sektor manufaktur AS tumbuh pada Juli, dengan pesanan dan produksi baru mendorong sebagian besar kekuatan, menurut Institute for Supply Management (ISM). ISM melaporkan PMI manufaktur AS (Purchasing Managers Index) mencatat 54,2 persen pada Juli atau naik 1,6 poin dari pembacaan Juni 52,6 persen.
 
Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat terkontraksi cukup tajam yakni minus 32,9 persen di kuartal II-2020. Pelemahan yang sangat dalam itu menunjukkan parahnya hantaman virus korona yang memicu resesi ekonomi Paman Sam, terlebih kasus infeksinya terus meningkat hingga sekarang ini.
 
"Ekonomi AS mengalami kontraksi di tingkat tahunan sebesar 32,9 persen pada kuartal kedua," ungkap Departemen Perdagangan AS.
 
Kondisi itu merupakan penurunan terdalam sejak Pemerintah AS mulai membuat catatan pertumbuhan ekonomi pada 1947. Sedangkan di kuartal pertama 2020, Produk Domestik Bruto (PDB) riil mengalami kontraksi di tingkat tahunan sebesar lima persen.
 
Penurunan PDB riil mencerminkan penurunan pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), ekspor, investasi inventaris swasta, investasi tetap non-perumahan, investasi tetap perumahan, dan pengeluaran pemerintah negara bagian dan lokal.
 
"Yang sebagian diimbangi oleh peningkatan pengeluaran pemerintah federal," ungkap Biro Analisis Ekonomi.
 
(ABD)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif