Ilustrasi. FOTO: Johannes EiseleI/AFP
Ilustrasi. FOTO: Johannes EiseleI/AFP

Covid-19 Melesat: Indeks Dow Jones Ambruk 943 Poin, Nasdaq Anjlok 426 Poin

Ekonomi Virus Korona Wall Street ekonomi amerika
Angga Bratadharma • 29 Oktober 2020 08:17
New York: Pasar saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Tekanan terjadi karena investor semakin khawatir terkait melonjaknya kasus infeksi covid-19 dan kemungkinan dampak terburuknya terhadap ekonomi.
 
Mengutip Xinhua, Kamis, 29 Oktober 2020, indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 943,24 poin atau 3,43 persen menjadi 26.519,95. Sedangkan S&P 500 turun 119,65 poin atau 3,53 persen menjadi 3.271,03. Indeks Komposit Nasdaq merosot 426,48 poin atau 3,73 persen menjadi 11.004,87.
 
Semua 11 sektor saham utama S&P 500 tenggelam, dengan sektor teknologi dan energi masing-masing turun 4,33 persen dan 4,22 persen, memimpin penurunan. Perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS diperdagangkan lebih rendah, dengan semua 10 saham teratas berdasarkan bobot di indeks Tiongkok 50 yang terdaftar di S&P AS mengakhiri hari dengan catatan suram.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indeks Volatilitas Cboe, yang secara luas dianggap sebagai pengukur ketakutan terbaik di pasar saham, melonjak 20,78 persen menjadi 40,28. Pergerakan pasar saham AS yang menukik cukup tajam terjadi ketika infeksi covid-19 terus melonjak di Amerika Serikat.
 
Menurut analisis data CNBC dari Universitas Johns Hopkins, kasus harian nasional telah meningkat secara rata-rata sebanyak 71.832 selama seminggu terakhir. Lebih dari 8,8 juta kasus covid-19 telah dilaporkan di Amerika Serikat, dengan jumlah kematian mencapai 227 ribu pada Rabu sore.
 
Investor juga khawatir dengan pembatasan akibat covid-19 yang semakin intensif di Eropa. "Ketidakpastian tentang pembatasan mobilitas terkait covid-19 dan politik AS berarti kita harus melihat volatilitas tetap tinggi di tahun ini," kata Kepala Investasi UBS Global Wealth Management Mark Haefele, dalam sebuah catatan.
 
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikeras perlunya melarang TikTok di negara itu karena masalah keamanan nasional. Hal ini ditegaskan dalam pengajuan pengadilan terbaru menjelang rencana pemblokiran aplikasi video itu pada 12 November 2020.
 
Pengajuan tersebut dilakukan saat pengadilan mempertimbangkan legalitas tawaran pemerintah untuk membuat aplikasi milik Tiongkok ini "hilang" dari AS. Tiktok sejauh ini memiliki 100 juta pengguna.
 
"Presiden tidak boleh dicegah untuk mengatur ancaman keamanan nasional hanya karena musuh asing menyelubungi aktivitasnya di dalam perusahaan media," kata pengajuan tersebut di pengadilan federal di Washington.

 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif