Ilustrasi. FOTO: Ting Shen/Xinhua
Ilustrasi. FOTO: Ting Shen/Xinhua

IMF: Pengetatan Kebijakan The Fed Berpotensi Tahan Pemulihan Ekonomi di Asia

Ekonomi IMF The Fed ekonomi asia
Angga Bratadharma • 27 Januari 2022 10:01
Tokyo: Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mengatakan rencana kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS dapat menunda pemulihan ekonomi di Asia yang sedang berkembang. Kondisi itu juga terus menekan para pembuat kebijakan untuk waspada terhadap risiko arus keluar modal.
 
"Meningkatnya tekanan inflasi, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan penyebaran kasus virus korona dari varian Omicron juga mengaburkan prospek kawasan," kata Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Changyong Rhee, dilansir dari Channel News Asia, Kamis, 27 Januari 2022.
 
"Kami tidak mengharapkan normalisasi moneter AS menyebabkan guncangan besar atau arus keluar modal besar di Asia, tetapi pemulihan Asia yang sedang berkembang mungkin terhambat oleh suku bunga global yang lebih tinggi dan pengaruhnya," tambahnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Karena kekhawatiran atas Fed yang lebih hawkish mengguncang pasar global, investor memperkirakan bank sentral AS akan memberi sinyal pada rencananya untuk menaikkan suku bunga pada Maret. Sedangkan pelaku pasar telah menilai total ada empat kenaikan suku bunga di tahun ini.
 
Rhee mengatakan ada risiko inflasi AS bisa berubah lebih tinggi dari yang diharapkan, dan memerlukan pengetatan moneter lebih cepat atau lebih besar oleh The Fed. Kondisi itu pada akhirnya bisa memberikan berbagai macam reaksi terhadap perekonomian dan pasar keuangan.
 
"Setiap miskomunikasi atau kesalahpahaman tentang perubahan tersebut dapat memicu pelarian ke tempat yang aman, meningkatkan biaya pinjaman, dan mengakibatkan arus keluar modal dari negara berkembang Asia," katanya.

IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia

Dalam Outlook Ekonomi Dunia yang diperbarui, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia untuk 2022 menjadi 5,9 persen dari perkiraan Oktober sebesar 6,3 persen. Penurunan peringkat sebagian besar disebabkan oleh penurunan 0,8 persen dalam perkiraan pertumbuhan ekonomi Tiongkok di 2022 menjadi 4,8 persen.
 
Kondisi itu di Tiongkok akibat dampak kesengsaraan sektor properti dan pukulan terhadap konsumsi dari pembatasan ketat covid-19. "Tiongkok masih menjadi pabrik dunia. Melemahnya permintaan domestik Tiongkok juga akan menurunkan permintaan eksternal negara tetangga secara umum," kata Rhee.
 
Ia menambahkan Asia mungkin juga melihat inflasi muncul sebagai salah satu risiko tahun ini, bertentangan dengan tahun lalu ketika penundaan pemulihan ekonomi, serta kenaikan harga energi dan pangan yang tertahan, membuat inflasi tetap rendah dibandingkan dengan kawasan lain.
 
"Pada 2022, saat pemulihan menguat dan harga pangan melambung, dampak terus-menerus dari biaya pengiriman yang tinggi dapat mengakhiri inflasi jinak yang dinikmati Asia pada 2021. Harga energi global diperkirakan stabil pada 2022 setelah kenaikan besar pada 2021, tetapi belakangan ini fluktuatif," pungkas Rhee.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif