Ilustrasi bendera Tiongkok. Foto: AFP.
Ilustrasi bendera Tiongkok. Foto: AFP.

Tiongkok Salip Jerman Jadi Negara dengan Surplus Transaksi Berjalan Terbesar

Ekonomi ekonomi china defisit transaksi berjalan jerman
Antara • 22 Januari 2021 14:25
Berlin: Surplus transaksi berjalan Jerman menyusut untuk tahun kelima berturut-turut pada tahun lalu. Tiongkok mengambil alih ekonomi terbesar Eropa itu selama pandemi covid-19, sebagai negara dengan surplus transaksi berjalan terbesar di dunia.
 
Demikian survei tersebut disampaikan oleh lembaga Ifo Jerman. Data tersebut menggarisbawahi pergeseran tektonik dalam perdagangan dunia yang dipicu oleh krisis virus korona ketika permintaan yang lebih tinggi di seluruh dunia untuk perlengkapan perlindungan medis dan perangkat elektronik mendorong ekspor Tiongkok.
 
Mengutip Antara, Jumat, 22 Januari 2021, Institut Ifo yang berbasis di Munich mengatakan surplus neraca berjalan Tiongkok, yang mengukur arus barang, jasa dan investasi, meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi USD310 miliar tahun lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Survei menunjukkan surplus neraca berjalan Jerman menyusut menjadi USD261 miliar pada 2020 karena permintaan untuk mobil, mesin, dan peralatan turun di banyak pasar ekspor utamanya. Jepang berada di urutan ketiga dengan surplus transaksi berjalan sebesar USD158 miliar.
 
Namun jika diukur dalam kaitannya dengan output ekonomi, surplus transaksi berjalan Jerman tetap luar biasa tinggi di 6,9 persen pada tahun lalu, turun sedikit dari 7,1 persen pada 2019.
 
Sejak 2011 surplus transaksi berjalan Jerman secara konsisten berada di atas ambang indikatif Uni Eropa sebesar 6,0 persen. Menurut survei, surplus mencapai rekor tertinggi 8,6 persen pada 2015. Sebagai perbandingan, surplus neraca berjalan Tiongkok tahun lalu mencapai 2,1 persen dan Jepang di 3,2 persen.
 
Selain itu survei menunjukkan Amerika Serikat tetap menjadi negara dengan defisit transaksi berjalan terbesar di dunia yang naik sekitar sepertiga menjadi USD635 miliar pada 2020 atau 3,1 persen dari output ekonomi.
 
Ini menunjukkan bahwa mantan Presiden AS Donald Trump gagal menekan defisit perdagangan meskipun dia memiliki agenda America First untuk melindungi pekerjaan industri dengan meningkatkan tarif impor barang asing.
 
Ekonom Ifo Christian Grimme mengatakan pembatasan terkait pandemi pada perjalanan dan pariwisata mendorong defisit jasa-jasa Jerman yang biasanya tinggi ke rekor terendah.
 
"Pada tahun lalu orang Jerman jauh lebih sedikit berlibur ke luar negeri karena virus korona. Akibatnya, mereka menghabiskan lebih sedikit uang di negara lain seperti Spanyol, Italia, atau Yunani," pungkasnya.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif