Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

Covid-19 Melonjak, Dow Jones dan S&P Kompak Melemah

Ekonomi Wall Street Ekonomi Amerika covid-19
Angga Bratadharma • 23 Januari 2021 07:53
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) berakhir bervariasi pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Sentimen pasar tertekan di tengah melonjaknya infeksi covid-19 di seluruh negara di dunia, dengan implementasi program vaksinasi terus dilakukan guna memutus mata rantai penyebaran.
 
Mengutip Xinhua, Sabtu, 23 Januari 2021, indeks Dow Jones Industrial Average turun sebanyak 179,03 poin atau 0,57 persen menjadi 30.996,98. Sedangkan S&P 500 melemah 11,60 poin atau 0,30 persen menjadi 3.841,47. Indeks Komposit Nasdaq menguat 12,15 poin atau 0,09 persen menjadi 13.543,06.
 
Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor keuangan turun 0,72 persen, memimpin penurunan. Sedangkan sektor real estate menguat sebanyak 0,31 persen, kelompok dengan kinerja terbaik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih rendah. Tujuh dari 10 saham teratas berdasarkan bobot dalam indeks Tiongkok 50 yang terdaftar di S&P AS mengakhiri hari dengan catatan suram. Sementara lonjakan kasus aktif covid-19 terus memicu kekhawatiran.
 
Penghitungan oleh Universitas Johns Hopkins menunjukkan Amerika Serikat mencatat lebih dari 24,7 juta kasus yang dikonfirmasi dengan kematian terkait melebihi 412 ribu pada Jumat sore waktu setempat. Presiden AS Joe Biden mengumumkan strategi untuk mengatasi pandemi covid-19 karena negara tersebut mengalami rekor tingkat infeksi dan kematian.
 
Kurang dari seminggu sebelum pelantikan, Biden meluncurkan tagihan bantuan covid-19 senilai USD1,9 triliun. Kondisi itu menunjukkan urgensi untuk memerangi pandemi yang mengamuk dan mendukung ekonomi yang porak poranda di tengah melonjaknya kasus virus korona.
 
Sementara itu, bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) mempertahankan suku bunga acuan, karena negara-negara euro terus berjuang dengan melonjaknya infeksi covid-19 dan kembali menerapkan penguncian wilayah. Namun, ECB siap menyesuaikan alat kebijakan moneter jika situasi ekonomi tidak membaik.
 
"Operasi refinancing utama ECB, fasilitas pinjaman marjinal, dan fasilitas simpanan masing-masing tetap di level 0,00 persen, 0,25 persen, dan minus 0,50 persen," ungkap ECB, dalam sebuah pernyataan.
 
ECB meningkatkan program stimulus besar-besaran pada Desember 2020 guna mendukung pemulihan ekonomi di wilayah tersebut. Program Pembelian Darurat Pandemi diperpanjang hingga Maret 2022, dengan total pembelian obligasi sebesar 1,85 triliun euro (USD2,25 triliun).
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif