Ilustrasi. AFP PHOTO/Bryan R. Smith
Ilustrasi. AFP PHOTO/Bryan R. Smith

Reli Saham Teknologi Dorong Wall Street Menghijau

Ekonomi Wall Street
Angga Bratadharma • 20 November 2020 07:40
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup lebih tinggi pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), didukung oleh momentum positif pada nama-nama besar saham teknologi. Namun, lonjakan kasus covid-19 masih memberikan sentimen negatif terhadap pasar saham Wall Stret.
 
Mengutip Xinhua, Jumat, 20 November 2020, indeks Dow Jones Industrial Average naik 44,81 poin atau 0,15 persen menjadi 29.483,23. Sedangkan S&P 500 naik 14,08 poin atau 0,39 persen menjadi 3.581,87. Kemudian indeks Komposit Nasdaq naik 103,11 poin atau 0,87 persen menjadi 11.904,71.
 
Semua saham raksasa teknologi AS termasuk Facebook, Apple, Amazon, Netflix, dan perusahaan induk Google, Alphabet, berakhir naik. Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 menguat, dengan energi dan teknologi ditutup masing-masing 1,53 persen dan 0,84 persen, melampaui sisanya. Utilitas tergelincir 1,03 persen, kelompok dengan kinerja terburuk.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih tinggi, dengan tujuh dari 10 saham teratas menurut bobot dalam indeks 50 Tiongkok yang terdaftar di S&P AS mengakhiri hari dengan catatan optimistis. Sementara itu, infeksi covid-19 yang melonjak di Amerika Serikat terus menghadirkan sentimen negatif.
 
Menurut penghitungan oleh Universitas Johns Hopkins Amerika Serikat telah melaporkan lebih dari 11,6 juta kasus secara total dengan jumlah kematian akibat penyakit tersebut melebihi 251 ribu pada Kamis sore. Lonjakan ini tentu harus segera dihentikan karena berdampak luas termasuk perekonomian.
 
Di sisi data, Departemen Tenaga Kerja melaporkan, klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, berada di level 742 ribu dalam pekan yang berakhir 14 November, meningkat 31 ribu dari level revisi minggu sebelumnya. Departemen Tenaga Kerja memandang pemulihan pasar tenaga kerja melambat di tengah pandemi yang meningkat.
 
Sementara itu, Institute of International Finance (IIF) mencatat utang global diperkirakan akan melonjak ke rekor USD277 triliun pada akhir tahun. Hal ini dikarenakan pemerintah dan perusahaan terus mengeluarkan uang dalam menghadapi pandemi covid-19.
 
IIF, yang anggotanya mencakup lebih dari 400 bank dan lembaga keuangan di seluruh dunia, mengatakan utang telah membengkak sebesar USD15 triliun tahun ini menjadi USD272 triliun hingga September. Kebanyakan dari negara maju menyumbang hampir setengah dari kenaikan tersebut.
 
Utang pasar negara berkembang secara keseluruhan naik jadi 432 persen dari PDB pada kuartal III, dari rasio sekitar 380 persen di akhir 2019. Utang pasar negara berkembang terhadap PDB mencapai hampir 250 persen pada kuartal ketiga. Sementara Tiongkok mencapai 335 persen, dan untuk tahun ini rasio itu diramal mencapai sekitar 365 persen dari PDB global.
 
"Ada ketidakpastian yang signifikan tentang bagaimana ekonomi global dapat mengurangi leverage di masa depan tanpa implikasi merugikan yang signifikan bagi aktivitas ekonomi," kata IIF.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif