Elon Musk. Foto : AFP.
Elon Musk. Foto : AFP.

Elon Musk Buka Sayembara Rp1,4 Triliun, Berani Ikutan?

Ekonomi elon musk Nilai Ekonomi Karbon
Antara • 24 Januari 2021 12:53
Jakarta: Orang terkaya di dunia  Elon Musk, berkicau di akun Twitter-nya pada Jumat, 22 Januari 2021. "Am donating USD100M towards a prize for best carbon capture technology," kicau Elon Musk.
 
Dikutip dari Antara, Minggu 24 Januari 2021, bos Tesla dan SpaceX itu berniat mendonasikan USD100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun untuk teknologi penangkap karbon terbaik yang berhasil tercipta. Demikian isi cuitannya tersebut.
 
Saat ditanya soal pohon, ia menjawab mereka bagian dari solusi, tapi membutuhkan banyak air dan tanah. Mungkin butuh sesuatu yang dapat diproduksi industri dalam skala besar dalam 10 hingga 20 tahun ke depan. Musk lalu mengatakan prioritas utama sejauh ini adalah mempercepat transisi ke ekonomi energi berkelanjutan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat salah satu warganet menanyakan apakah reaktor sabatier bisa dianggap sebagai teknologi penangkap karbon, dirinya menganggap teknologi tersebut baik untuk energi terbarukan sepenuhnya yang digunakan pada roket. Sehingga menyelesaikan sebagian persoalan, namun membutuhkan rantai hidrokarbon yang lebih panjang dari metana (CH4) untuk menjadi solid di suhu kamar.
 
NASA memang menggunakan sistem sabatier, yang awalnya dikembangkan ahli kimia Prancis penerima Hadiah Nobel bernama Paul Sabatier di awal 1900-an, untuk memproduksi air di stasiun luar angkasanya.
 
Dengan memanfaatkan katalis yang bereaksi dengan karbon dioksida (CO2) dan hidrogen yang merupakan produk sampingan dari sistem pendukung kehidupan di stasiun luar angkasa, mereka dapat menghasilkan air dan metana untuk memenuhi kebutuhan para astronot di sana.
 
Butuh waktu setidaknya 20 tahun bagi NASA untuk mengembangkan teknologi fundamental tersebut, dan kurang dari dua tahun memproduksinya.
 
Sistem tersebut yang beroperasi sejak Oktober 2010 itu menjadi bagian terakhir dari kontrol lingkungan regeneratif dan pendukung kehidupan di stasiun ruang angkasa mereka.
 
Sebelum ada teknologi itu, sistem penghasil oksigen (O2) di stasiun ruang angkasa NASA membuang kelebihan CO2 dan hidrogen keluar angkasa. Dengan sistem sabatier hidrogen dan karbon dioksida yang dianggap sebagai bagian dari emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global di Bumi dapat diubah untuk menghasilkan tambahan air di sana.
 
Untuk memantapkan cuitannya, pemilik kekayaan USD201 miliar atau sekitar Rp2.833 triliun itu berjanji akan menginformasikan lagi detail dari rencana donasinya untuk rencana "menangkap" karbon tersebut, pekan depan.
 
Tren bisnis baru
 
Penangkap dan penyimpan karbon (carbon capture and storage/CCS) memang bukanlah sesuatu hal baru. Namun dapat dengan cepat menjadi tren ke depan seiring dengan semakin seksinya sekaligus semakin mengancamnya persoalan krisis iklim bagi penduduk global.
 
CO2 biasanya ditangkap langsung dari udara atau dari industrial dengan menggunakan berbagai macam teknologi yang berfungsi penyerapan, adsorpsi, perulangan kimia, pemisahan gas membran atau teknologi gas hidrat. Teknologi penangkap dan penyimpan CO2 tersebut biasanya diterapkan pada industri semen dan pembangkit listrik biomassa yang menyumbang emisi GRK dalam jumlah besar.
 
The Global CCS Institute, sebuah lembaga thinkthank internasional asal Australia yang khusus mengakselerasi penyebaran CCS secara global baru-baru ini mengumumkan anggotanya bertambah 34 dalam satu tahun terakhir. Sehingga kini terdapat 87 pelaku bisnis, agen pemerintahan, hingga organisasi penelitian berasal dari 16 negara di dunia yang bergabung.
 
General Manager for Client Engagement The Global CCS Institute Jeff Erikson mengatakan dunia semakin memahami perubahan iklim merupakan sebuah krisis, dan CCS menjadi sebuah elemen yang esensial untuk solusi mengatasi perubahan iklim. Keberagaman anggota mereka mendemonstrasikan ekosistem CSS semakin matang dan berkembang.
 
Erikson juga mengatakan meski anggotanya sebagian dulunya merupakan penghasil emisi besar, kini perusahaan yang baru bergabung menganggap CCS justru sebagai sumber pendapatan, dan sedang mencari tahu bagaimana hal itu cocok dengan strategi pertumbuhan bisnis mereka.
 
Badan Energi Internasional memperkirakan untuk dapat mencapai target Paris Agreement menekan peningkatan suhu Bumi tidak lebih dari 1,5 derajat celsius setidaknya membutuhkan investasi CCS sekitar USD9,7 triliun.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif