Ilustrasi. AFP PHOTO/Bryan R. Smith
Ilustrasi. AFP PHOTO/Bryan R. Smith

Indeks Dow-S&P Kompak Melemah

Ekonomi Wall Street
Angga Bratadharma • 01 September 2020 07:46
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) berakhir bervariasi pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Wall Street menutup Agustus terbaiknya dalam lebih dari 30 tahun, meski tengah terjadi pandemi covid-19.
 
Mengutip Xinhua, Selasa, 1 September 2020, indeks Dow Jones Industrial Average turun 223,82 poin atau 0,78 persen menjadi 28.430,05. Kemudian S&P 500 turun 7,70 poin atau 0,22 persen menjadi 3.500,31. Sedangkan indeks Komposit Nasdaq naik 79,82 poin atau 0,68 persen menjadi 11.775,46.
 
Sebanyak tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup melemah, dengan sektor energi turun 2,2 persen, memimpin penurunan. Kemudian sektor teknologi naik sebanyak 0,36, menjadi kelompok dengan kinerja terbaik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih rendah, dengan delapan dari 10 saham teratas menurut bobot di indeks Tiongkok 50 yang terdaftar di S&P AS mengakhiri hari dengan catatan suram.
 
Untuk Agustus, Dow naik 7,6 persen, kenaikan Agustus terbesar sejak 1984. S&P 500 mencatat kenaikan bulanan tujuh persen, menandai kinerja Agustus terbaiknya sejak 1986. Nasdaq yang sangat padat teknologi melonjak 9,6 persen di Agustus.
 
Indeks 30 saham dimulai minggu ini dengan pergeseran karena tiga dari anggota lama yakni Exxon Mobil, Raytheon Technologies, dan Pfizer, digantikan oleh penyedia layanan cloud Salesforce, konglomerat industri Honeywell dan perusahaan bioteknologi Amgen pada pembukaan Senin.
 
Ekonom Wells Fargo Securities Sam Bullard dan Michael Pugliese sebelumnya mengatakan target inflasi rata-rata menandakan bahwa the Fed akan memberikan toleransi kepada inflasi secara moderat di atas dua persen untuk menebus penurunan di masa lalu. Tentu harapannya bisa efektif memerangi dampak buruk covid-19.
 
"Menghasilkan suku bunga riil yang lebih rendah dan kebijakan moneter yang lebih akomodatif, semuanya sama. Satu hal tampaknya cukup pasti di tengah perubahan ini yakni Fed tidak mungkin mengetatkan kebijakan moneter untuk waktu yang cukup lama," ungkap Sam Bullard dan Michael Pugliese, dalam sebuah analisis.
 
"Dalam praktiknya, langkah tersebut kurang monumental daripada yang terlihat. Apalagi selama lebih dari tiga tahun, FOMC telah menekankan sifat simetris dari target dua persen dalam pernyataannya," tulis mereka.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif