Ilustrasi. FOTO: Mark Ralston/AFP
Ilustrasi. FOTO: Mark Ralston/AFP

Oktober, Pelemahan Harga Makanan Picu Penurunan Inflasi Tiongkok

Ekonomi Virus Korona ekonomi china tiongkok
Angga Bratadharma • 13 November 2020 12:02
Beijing: Tiongkok mencatat inflasi konsumen turun untuk tiga bulan berturut-turut dan mencapai level terendah 11 tahun pada Oktober. Penurunan tingkat inflasi itu disebabkan jatuhnya harga makanan.
 
"Indeks harga konsumen (CPI), pengukur utama inflasi, naik 0,5 persen secara tahun ke tahun pada Oktober atau melemah dari kenaikan 1,7 persen pada posisi September," ungkap Biro Statistik Nasional (NBS), dilansir dari Xinhua, Jumat, 13 November 2020.
 
Dalam skala bulanan, harga konsumen turun 0,3 persen. Harga makanan, yang menyumbang hampir sepertiga dari CPI Tiongkok turun 1,8 persen pada bulan lalu. Ahli Statistik Senior NBS Dong Lijuan mengaitkan inflasi yang terkendali dengan penurunan harga pangan, terutama telur, sayuran, dan babi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jika dirinci, harga daging babi turun tujuh persen bulan lalu atau lebih rendah dibandingkan dengan penurunan sebanyak 5,4 persen pada September. Kondisi itu karena kapasitas produksi babi terus pulih, dan pasokan daging babi terus meningkat. Harga telur dan sayuran turun masing-masing 2,3 persen dan 2,1 persen dari September di tengah pasokan yang melimpah.
 
Dong mengatakan basis perbandingan yang tinggi pada periode yang sama tahun lalu, efek carry over yang berkurang, dan jatuhnya harga daging babi telah menyebabkan penurunan lebih lanjut dalam pertumbuhan IHK tahun-ke-tahun.
 
"Dalam skala tahunan, harga daging babi turun untuk pertama kalinya setelah tumbuh selama 19 bulan berturut-turut," ungkap Dong.
 
Meski inflasi utama bulan lalu mencapai rekor terendah sejak Oktober 2009, analis Nomura, sebuah perusahaan jasa keuangan, menepis kekhawatiran. Menurut analis Nomura, penurunan inflasi CPI tidak berarti Tiongkok mengalami deflasi, karena penurunan tersebut terutama didorong oleh harga daging babi.
 
"Inflasi disebabkan oleh basis yang tinggi sebagai akibat dari Demam Babi Afrika, harga daging babi yang melemah secara berurutan, dan peningkatan bobot daging babi dalam keranjang CPI," kata analis Nomura.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif