Ilustrasi mata uang Brasil. Foto: AFP/Sergio Lima.
Ilustrasi mata uang Brasil. Foto: AFP/Sergio Lima.

Meningkatnya Inflasi di Beberapa Negara Amerika Latin Bikin Dilema

Ekonomi ekonomi dunia Ekonomi Global
Ade Hapsari Lestarini • 12 Mei 2021 17:33
Mexico City: Meningkatnya inflasi di beberapa negara Amerika Latin menimbulkan dilema bagi bank sentral. Direktur Analisis Moody's Amerika Latin Alfredo Coutino mengatakan pemangku kebijakan itu harus memilih antara mengekang kenaikan harga dan memacu ekonomi yang melemah.
 
Dalam wawancaranya dengan Xinhua, kepala penelitian ekonomi regional di lembaga pemeringkat kredit itu mencatat inflasi rebound, terutama di ekonomi terbesar Amerika Latin, seperti Brasil, Chili, dan Meksiko, yang masih berjuang dengan penyebaran covid-19.
 
"Inflasi Amerika Latin, seperti di sebagian besar pasar negara berkembang, memiliki faktor eksternal dan internal," jelas Coutino, menyebutkan kenaikan harga pangan dan minyak internasional baru-baru ini di antara pengaruh eksternal, dilansir dari Xinhua, Rabu, 12 Mei 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Di dalam negeri, ada gangguan dalam proses produksi internal yang disebabkan masih adanya wabah yang membatasi pasokan barang dan jasa," kata Coutino.
 
Selain itu ekspansi kondisi moneter yang diputuskan oleh beberapa bank sentral daerah menyusul eskalasi pandemi, yang pada gilirannya memengaruhi nilai tukar lokal.
 
Situasi ini, misalnya, telah menyebabkan inflasi naik di atas enam persen di Brasil dan Meksiko, melebihi tingkat target yang ditetapkan oleh entitas moneter. Sedangkan di Peru indeks harga konsumen melampaui target dua persen.
 
Coutino menuturkan, meski di Chile indikator tersebut jatuh dalam target tiga persen, namun trennya telah meningkat sejak pertengahan tahun lalu.
 
"Sekarang inflasi menjadi risiko, bank sentral menghadapi tantangan yang jelas, terus mendukung perekonomian atau mundur untuk memenuhi fungsi anti-inflasi. Jika mereka memenuhi mandat mereka, maka mereka telah memenuhi tantangan, tetapi mereka menempatkan pemulihan ekonomi negara mereka yang masih lemah dalam risiko," tambahnya.
 
Sejak 2020, sebagian besar bank sentral di Amerika Latin telah memusatkan kebijakan moneter mereka untuk membantu ekonomi mengurangi dampak pandemi di kawasan tersebut, yang paling terpengaruh oleh covid-19 secara global.
 
Tingkat suku bunga jauh di bawah tingkat netral di beberapa negara kawasan, sementara jumlah riil uang per unit produk tumbuh pada tingkat yang jauh lebih cepat daripada yang tercatat sebelumnya.
 
Ini menyiratkan bahwa uang yang beredar melebihi jumlah barang dan jasa yang diproduksi oleh perekonomian, dan kelebihan tersebut diterjemahkan ke dalam harga yang lebih tinggi atau impor yang lebih besar.
 
"Dalam hal ini, dan sesuai dengan mandat mereka untuk mengontrol harga, bank sentral Amerika Latin tidak memiliki pilihan selain memulai proses membalikkan siklus moneter ekspansif mereka, tidak hanya dengan menormalkan suku bunga, tetapi juga dengan menarik kelebihan likuiditas mereka. dipompa ke dalam perekonomian," kata Coutino.
 
Sayangnya, bank sentral Amerika Latin telah menjadi korban dari mandat moneter dari tujuan mereka sendiri (untuk mengendalikan inflasi), karena menghadapi kenaikan inflasi mereka harus mengetatkan kebijakan moneter dengan kemungkinan risiko melemah atau setidaknya membatasi pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung," tambah dia.
 
Menurut Moody's Analytics, pandemi tersebut menyebabkan ekonomi Amerika Latin anjlok tujuh persen pada 2020. Untuk 2021, Coutino memperkirakan pemulihan ekonomi regional sebesar 4,8 persen.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif