Presiden Amerika Serikat Joe Biden. FOTO: AFP
Presiden Amerika Serikat Joe Biden. FOTO: AFP

Biden Klaim Tidak Terkejut Ekonomi AS Melambat

Angga Bratadharma • 05 Agustus 2022 14:04
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengaku tidak terkejut melihat perlambatan pertumbuhan ekonomi meski data menunjukkan ada kontraksi lagi di kuartal II. Pernyataan itu dilontarkan guna menenangkan kecemasan pemilih tentang keadaan ekonomi di Negara Paman Sam.
 
"Tidak mengherankan ekonomi melambat karena Federal Reserve bertindak untuk menurunkan inflasi. Kami berada di jalan yang benar dan kami akan melewati transisi ini dengan lebih kuat dan lebih aman," klaim Biden, dilansir dari The Business Times, Jumat, 5 Agustus 2022.
 
Kekhawatiran tentang ekonomi telah menjadi fokus politik utama Biden menuju pemilihan paruh waktu 8 November di mana kendali Partai Demokratnya atas Kongres dipertaruhkan. Peringkat persetujuan Presiden telah jatuh ke rekor terendah di angka 36 persen, menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kondisi itu dengan ekonomi AS terdaftar di puncak kekhawatiran pemilih karena tagihan bahan makanan, gas, dan perumahan yang lebih tinggi terus meningkat. Sementara penurunan kuartalan kedua berturut-turut dalam PDB memenuhi definisi standar resesi, Gedung Putih mengatakan, kondisi resesi yang lebih luas tidak akan tercapai.
Baca: BLU Batu bara Perlu Inklusif untuk Industri Nonkelistrikan

Hal tersebut mengingat belanja konsumen dan pasar kerja yang kuat. Sedangkan Biden tetap optimistis pada prospek ekonomi, bahkan ketika kekhawatiran perlambatan telah bergabung dengan kekhawatiran tentang inflasi yang mencapai level tertinggi 40 tahun.
 
Dalam pernyataannya, dia mencatat, pasar kerja secara historis kuat dan belanja konsumen terus tumbuh. Data Departemen Perdagangan AS baru memperkirakan bahwa produk domestik bruto AS turun pada tingkat tahunan 0,9 persen pada kuartal terakhir.
 
Adapun The Fed sebelumnya memutuskan untuk menaikkan suku bunga kebijakannya sebesar tiga perempat poin persentase, sehingga total kenaikan suku bunga sejak Maret menjadi 225 basis poin. Ketua Fed Jerome Powell mengakui pelemahan aktivitas ekonomi sebagai akibat dari kebijakan moneter yang lebih ketat.

 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif