Foto: AFP.
Foto: AFP.

Dolar AS Merekah

Ekonomi Dolar AS
Angga Bratadharma • 01 Agustus 2020 09:29
New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) menguat pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), mencoba pulih dari kerugian besar baru-baru ini di tengah ketidakpastian virus korona. Sejauh ini, Pemerintah AS terus berupaya menekan penyebaran virus mematikan itu yang ujungnya menghantam perekonomian.
 
Mengutip Xinhua, Sabtu, 1 Agustus 2020, indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,38 persen pada 93,3749. Pada akhir perdagangan New York, euro jatuh menjadi USD1,1782 dari USD1,1837 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,3101 dari USD1,3085 pada sesi sebelumnya.
 
Dolar Australia turun ke USD0,7145 dibandingkan dengan USD0,7175. Dolar AS membeli 105,77 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 104,82 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik hingga 0,9138 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9096 franc Swiss, dan jatuh ke 1,3384 dolar Kanada dari 1,3443 dolar Kanada. Untuk minggu ini, indeks dolar AS turun 1,14 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Para pakar mencatat mata uang AS berada di bawah tekanan karena melonjaknya jumlah infeksi virus korona di AS, ditambah dengan serangkaian data ekonomi yang suram menyebabkan keraguan tentang pemulihan cepat ekonomi AS.
 
Menurut penghitungan Universitas Johns Hopkins, sampai Jumat sore, lebih dari 4,5 juta kasus covid-19 yang telah dikonfirmasi telah dilaporkan di Amerika Serikat, dengan hampir 153 ribu kematian.
 
Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat terkontraksi cukup tajam yakni minus 32,9 persen di kuartal II-2020. Pelemahan yang sangat dalam itu menunjukkan parahnya hantaman virus korona yang memicu resesi ekonomi Paman Sam, terlebih kasus infeksinya terus meningkat hingga sekarang ini.
 
"Ekonomi AS mengalami kontraksi di tingkat tahunan sebesar 32,9 persen pada kuartal kedua," ungkap Departemen Perdagangan AS.
 
Kondisi itu merupakan penurunan terdalam sejak Pemerintah AS mulai membuat catatan pertumbuhan ekonomi pada 1947. Sedangkan di kuartal pertama 2020, Produk Domestik Bruto (PDB) riil mengalami kontraksi di tingkat tahunan sebesar lima persen.
 
Penurunan PDB riil mencerminkan penurunan pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), ekspor, investasi inventaris swasta, investasi tetap non-perumahan, investasi tetap perumahan, dan pengeluaran pemerintah negara bagian dan lokal.
 
"Yang sebagian diimbangi oleh peningkatan pengeluaran pemerintah federal," ungkap Biro Analisis Ekonomi.
 

(ABD)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif