Ilustrasi. FOTO: Johannes EiseleI/AFP
Ilustrasi. FOTO: Johannes EiseleI/AFP

3 Indeks Acuan Saham AS Kompak Melemah

Ekonomi Wall Street
Angga Bratadharma • 14 Oktober 2020 07:39
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), karena investor mencerna banyak laporan pendapatan. Selain itu, investor terus mencermati perkembangan negosiasi stimulus tambahan covid-19 antara Gedung Putih dengan DPR.
 
Mengutip Xinhua, Rabu, 14 Oktober 2020, indeks Dow Jones Industrial Average turun 157,71 poin atau 0,55 persen menjadi 28.679,81. Sedangkan S&P 500 turun 22,29 poin atau 0,63 persen menjadi 3.511,93. Kemudian indeks Komposit Nasdaq turun 12,36 poin atau 0,10 persen menjadi 11.863,90.
 
Sebanyak sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup melemah, dengan sektor keuangan turun 1,86 persen, memimpin penurunan. Sedangkan sektor jasa komunikasi naik 0,35 persen, kelompok dengan kinerja terbaik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih rendah, dengan tujuh dari 10 saham teratas menurut bobot di indeks Tiongkok 50 yang terdaftar di S&P AS mengakhiri hari dengan catatan suram. Musim pendapatan dimulai minggu ini, dengan sektor bank yang pertama melaporkannya.
 
JPMorgan Chase melaporkan pendapatan kuartal ketiganya yang mengalahkan konsensus pasar karena rebound di pasar global mengangkat pendapatan perdagangan bank. Namun, sahamnya ditutup turun 1,62 persen. Sedangkan saham Citigroup turun 4,8 persen meski membukukan pendapatan lebih baik dari perkiraan.
 
Sementara itu, Indeks Harga Konsumen AS naik 0,2 persen pada September dalam skala yang disesuaikan secara musiman setelah naik 0,4 persen pada Agustus, Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan. Angka tersebut secara kasar sejalan dengan konsensus pasar.
 
Di sisi lain, perusahaan multinasional jasa pemeringkat kredit Moody's memperkirakan bahwa tingkat pertumbuhan industri farmasi global bakal tetap stabil di tengah pandemi covid-19 yang melanda banyak negara di dunia termasuk Indonesia.
 
Moody's memprediksi pertumbuhan laba sebelum pajak industri farmasi akan meningkat 2-4 persen dalam jangka waktu 12-18 bulan ke depan. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sekitar 1-3 persen. Meski jangka waktu dan tingkat keparahan pandemi sulit diprediksi, tetapi utilisasi produksi obat-obatan yang terkait bakal terus meningkat.
 
Selain itu, walaupun banyak perusahaan telah dan sedang mengembangkan beragam produk yang dapat mengobati atau mencegah penyebaran virus korona, kondisi finansial tetap tidak menentu karena ada beragam faktor terkait seperti tingkat harga, kompetisi, serta durasi pandemi itu sendiri.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif