Ilustrasi. FOTO: Mark Ralston/AFP
Ilustrasi. FOTO: Mark Ralston/AFP

Krisis Energi hingga Tekanan Properti Buat Ekonomi Tiongkok di Jurang Kejatuhan

Ekonomi properti ekonomi china Tiongkok krisis energi
Angga Bratadharma • 18 Oktober 2021 09:47
Beijing: Ekonomi Tiongkok sedang terpukul dari semua sisi. Mulai dari kemerosotan di sektor properti, krisis energi, sentimen konsumen yang lemah, hingga melonjaknya biaya bahan baku. Data pemerintah bakal menunjukkan betapa buruknya keadaan di perekonomian terbesar nomor dua di dunia itu.
 
Ekonom yang disurvei memperkirakan perlambatan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi lima persen pada kuartal ketiga dari 7,9 persen pada tiga bulan sebelumnya, dan melemahnya angka produksi industri dan investasi bulanan pada September. Penjualan ritel mungkin menunjukkan peningkatan setelah wabah virus besar dapat diatasi.
 
Mengutip The Business Times, Senin, 18 Oktober 2021, prospek ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah suram dalam beberapa bulan terakhir menyusul memburuknya pasar properti dan kekurangan listrik yang mengejutkan yang memaksa pabrik-pabrik untuk mengekang produksi atau menutup sepenuhnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Para ekonom terus menurunkan perkiraan pertumbuhan mereka untuk tahun ini -beberapa seperti Nomura Holdings memperkirakan ekonomi bisa turun ke level 7,7 persen- dengan efek riak untuk seluruh dunia.
 
"Ini bukan gambaran optimistis untuk pertumbuhan kuartal ketiga, terutama karena efek basis rendah memudar. Pada kuartal ketiga, pihak berwenang memprioritaskan tujuan reformasi jangka panjang dan kurang fokus pada target pertumbuhan jangka pendek," kata Ekonom Natwest Markets Liu Peiqian, di Singapura.
 
Beijing terus memperketat pembatasan di pasar properti dalam upaya untuk mengekang risiko keuangan, menyebabkan kemerosotan dalam konstruksi dan memperburuk krisis likuiditas di pengembang China Evergrande Group, yang mengakibatkan limpahan yang lebih luas di industri.

Pengembang teratas Tiongkok

Penjualan gabungan dari 100 pengembang teratas Tiongkok anjlok 36 persen tahun-ke-tahun di September, yang secara tradisional merupakan musim puncak penjualan rumah. Itu akan berdampak pada ekonomi yang lebih luas, karena Goldman Sachs Group memperkirakan sektor properti dan industri hilir terkait menyumbang hampir seperempat dari PDB.
 
Kemudian pabrik-pabrik terpaksa menghentikan produksi karena kekurangan listrik selama paruh kedua September, menyebabkan indeks manajer pembelian merosot di bawah 50 untuk pertama kalinya sejak pandemi dimulai tahun lalu, sebuah tanda kontraksi di bidang manufaktur.
 
Selain itu, Tiongkok harus menghadapi wabah covid-19 terluas sejak virus pertama kali muncul pada akhir 2019 setelah kasus varian delta mulai menyebar mulai pertengahan Juli. Pihak berwenang berhasil mengendalikan kebangkitan pada akhir September tetapi strategi tanpa toleransi yang ketat di negara itu telah meninggalkan bekas luka pada konsumsi.
 
Meski demikian, pertumbuhan ekspor yang kuat secara tak terduga pada September adalah salah satu dari sedikit sorotan dalam perekonomian di tengah lautan berita buruk. Nafsu makan barang-barang Tiongkok di negara maju tetap kuat, sebagian karena pembeli luar negeri telah mengalihkan pesanan dari negara berkembang lainnya seperti Vietnam.
 
Banyak pembeli juga mencoba memuat pesanan belanja Natal mereka untuk mengatasi masalah rantai pasokan global. Surplus perdagangan yang melonjak adalah salah satu alasan mengapa yuan terus menguat tahun ini bahkan ketika prospek pertumbuhan memburuk.
 
Kenaikan tersebut mungkin mulai mengkhawatirkan para pembuat kebijakan sekarang, dengan People's Bank of China (PBoC) menetapkan yuan pada tingkat yang lebih lemah dari perkiraan yang akhirnya mendorong mata uang tersebut turun dari level tertinggi empat bulan.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif