Presiden Amerika Serikat Joe Biden. FOTO: AFP
Presiden Amerika Serikat Joe Biden. FOTO: AFP

Pemerintahan Biden Dinilai Harus Terlihat Tangguh di Hadapan Tiongkok

Ekonomi Ekonomi Amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
Angga Bratadharma • 23 Januari 2021 09:31
Singapura: Pemerintahan Joe Biden dinilai akan tetap keras terhadap Tiongkok. Sedangkan di era Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Washington dan Beijing telah melalui tahun-tahun yang penuh ketegangan, bahkan memicu lahirnya perang dagang yang imbasnya terhadap pelemahan ekonomi dunia.
 
"Tetapi masih harus dilihat apakah pemerintah (di bawah Presiden Joe Biden) akan mendengarkan negara-negara lain di kawasan sebelum menerapkan kebijakannya terhadap Beijing," kata Peneliti Institut Riset Asia Universitas Nasional Singapura Kishore Mahbubani, dilansir dari CNBC International, Sabtu, 23 Januari 2021.
 
"Saya pikir sama sekali tidak ada keraguan Pemerintahan Biden harus tampak sangat keras terhadap Tiongkok. Itu sangat jelas karena ada konsensus bipartisan yang kuat di Amerika Serikat bahwa waktunya telah tiba bagi AS berdiri untuk Tiongkok," tambahnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hubungan AS-Tiongkok memburuk signifikan di bawah Presiden Donald Trump ketika kedua negara adidaya itu bertempur dalam perang dagang dan bersaing untuk keunggulan teknologi. Dalam beberapa kasus, AS berusaha membawa negara-negara ke pihaknya melawan Tiongkok. Namun di Asia, khususnya Asia Tenggara, pengaruh ekonomi dan politik Beijing tetap kuat.
 
"Hal terpenting di sini adalah apakah Pemerintahan Biden akan mendengarkan negara-negara di kawasan itu sebelum mereka menerapkan kebijakan apapun terhadap Tiongkok?" kata Mahbubani.
 
Dia menjelaskan jika Pemerintahan Biden mulai mendengarkan, maka akan ditemukan adanya konsensus yang sangat kuat di Asia Timur. "Ya, Anda harus tegas dan kuat di Tiongkok, tapi kami juga harus rukun dengan Tiongkok. Kami harus bekerja dengan Tiongkok. Kami ingin ekonomi kami pulih dari covid-19. Jadi itu pesan yang akan Anda terima," kata Mahbubani.
 
"Pada akhirnya, saya sebenarnya optimistis bahwa di balik retorika yang sangat kuat, ada juga pemahaman dalam Pemerintahan Biden bahwa mereka dapat bekerja sama dengan seluruh Asia Timur. Dan terus terang, juga bekerja sama dengan Tiongkok dalam isu-isu kritis seperti perubahan iklim misalnya," tuturnya.
 
Saat Pemerintahan Obama, salah satu landasan poros AS ke Asia adalah perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik (TPP). Sedangkan Trump mengeluarkan AS dari perjanjian itu ketika dia pertama kali menjabat pada 2017. Kemudian sisa 11 negara di TPP melanjutkan untuk menegosiasikan kembali pakta.
 
Alhasil mereka menandatangani Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP) pada 2018. Tahun lalu, Tiongkok dan 14 negara lainnya menandatangani Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), yang akhirnya menjadi blok perdagangan terbesar di dunia, mencakup pasar 2,2 miliar orang dan output global USD26,2 triliun.
 
Dengan demikian, Amerika Serikat tidak terlibat dalam salah satu kesepakatan perdagangan besar yang melibatkan sebagian besar ekonomi terkemuka di Asia kecuali India. "TPP merupakan hadiah untuk AS karena merupakan cara untuk melabuhkan kehadiran AS di Asia Timur, guna memastikan bahwa kawasan ini tidak didominasi oleh Tiongkok," pungkas Mahbubani.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif