Ilustrasi. AFP PHOTO/Bryan R. Smith
Ilustrasi. AFP PHOTO/Bryan R. Smith

Bursa Saham AS Parkir di Zona Hijau

Ekonomi Wall Street
Angga Bratadharma • 29 Agustus 2020 08:12
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup lebih tinggi pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena investor mempelajari data ekonomi yang baru dirilis. Namun, pandemi covid-19 yang berkepanjangan terus memberikan tekanan tersendiri terhadap gerak bursa Wall Street.
 
Mengutip Xinhua, Sabtu, 29 Agustus 2020, indeks Dow Jones Industrial Average naik sebanyak 161,60 poin atau 0,57 persen menjadi 28.653,87. Kemudian S&P 500 menguat sebanyak 23,46 poin atau 0,67 persen menjadi 3.508,01. Sedangkan indeks Komposit Nasdaq naik 70,30 poin atau 0,60 persen menjadi 11.695,63.
 
Semua 11 sektor utama S&P 500 naik, dengan sektor energi dan material masing-masing naik 1,85 persen dan 1,1 persen, memimpin kenaikan. Sedangkan perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS sebagian besar diperdagangkan lebih tinggi, dengan sembilan dari 10 saham teratas berdasarkan bobot dalam indeks Tiongkok 50 mengakhiri hari dengan catatan optimistis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari sisi data, pengeluaran konsumsi pribadi AS naik 1,9 persen pada Juli dan pendapatan pribadi meningkat 0,4 persen, Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan. "Pemulihan konsumen berlanjut pada Juli, dengan pertumbuhan yang solid baik dalam pendapatan maupun pengeluaran," kata Kepala Ekonom FHN Financial Chris Low, dalam sebuah catatan.
 
Sedangkan Wall Street terus mencerna strategi kebijakan baru Federal Reserve AS tentang inflasi. Ketua Fed Jerome Powell mengataan Fed akan berusaha mencapai inflasi rata-rata dua persen dari waktu ke waktu, strategi baru untuk melaksanakan kebijakan moneter guna membantu memerangi pandemi covid-19 dan meningkatkan pemulihan ekonomi.
 
Sebelumnya, Ekonom Wells Fargo Securities Sam Bullard dan Michael Pugliese mengatakan target inflasi rata-rata menandakan bahwa the Fed akan memberikan toleransi kepada inflasi secara moderat di atas dua persen untuk menebus penurunan di masa lalu. Tentu harapannya bisa efektif memerangi dampak buruk covid-19.
 
"Menghasilkan suku bunga riil yang lebih rendah dan kebijakan moneter yang lebih akomodatif, semuanya sama. Satu hal tampaknya cukup pasti di tengah perubahan ini yakni Fed tidak mungkin mengetatkan kebijakan moneter untuk waktu yang cukup lama," ungkap Sam Bullard dan Michael Pugliese, dalam sebuah analisis.
 
"Dalam praktiknya, langkah tersebut kurang monumental daripada yang terlihat. Apalagi selama lebih dari tiga tahun, FOMC telah menekankan sifat simetris dari target dua persen dalam pernyataannya," tulis mereka.
 
Kepala Ekonom RSM US LLP Joseph Brusuelas mengatakan meski langkah yang diambil the Fed ini seperti penyesuaian teknis kecil terhadap kebijakan, namun hal tersebut membawa konsekuensi jangka panjang yang signifikan bagi ekonomi Amerika.
 
"Ini memberi bank sentral sejumlah besar fleksibilitas untuk menanggapi keadaan mendesak seperti gelombang kedua pandemi besar-besaran pada musim dingin atau untuk mengatasi kebijakan lain yang gagal oleh otoritas fiskal jika polarisasi kebijakan saat ini di Washington bertahan," pungkas Brusuelas.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif