Ilustrasi. FOTO: Mark Ralston/AFP
Ilustrasi. FOTO: Mark Ralston/AFP

Ekonom Peringatkan Potensi Perlambatan Ekonomi di Tiongkok

Ekonomi ekonomi china tiongkok
Angga Bratadharma • 20 Januari 2021 09:31
Singapura: Ekonomi Tiongkok mengakhiri 2020 dengan catatan yang kuat setelah data resmi menunjukkan aktivitas perekonomian meningkat lebih lanjut pada kuartal keempat 2020. Akan tetapi beberapa ekonom memperingatkan ada potensi perlambatan jangka panjang dalam momentum pertumbuhan tersebut.
 
Tiongkok sebelumnya melaporkan bahwa ekonominya tumbuh 6,5 persen pada kuartal IV-2020 dibandingkan dengan tahun lalu. Pencapaian itu di atas lompatan rata-rata 6,1 persen secara tahun-ke-tahun yang diperkirakan oleh jajak pendapat dan tingkat pertumbuhan tertinggi yang dicatat Tiongkok sejak kuartal keempat 2018.
 
"Angka kuartal keempat 2020 luar biasa, (ekonomi Tiongkok tumbuh) 6,5 persen. Itu bahkan lebih tinggi dari jalur pertumbuhan sebelum pandemi. Dari perspektif itu, pemulihan bentuk V Tiongkok selesai," kata Haibin Zhu, Kepala Ekonom Tiongkok di JPMorgan, dilansir dari CNBC International, Rabu, 20 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tiongkok adalah negara pertama yang melaporkan kasus covid-19 pada akhir 2019. Pihak berwenang menutup lebih dari setengah negara itu untuk menahan virus dan menyebabkan ekonomi menyusut 6,8 persen pada kuartal pertama di 2020 dan menjadi rekor terlemah.
 
"Tetapi ekonomi Tiongkok kembali tumbuh pada kuartal kedua tahun lalu, didukung oleh aktivitas manufaktur dan ekspor yang kuat, kata Zhu.
 
Kondisi tersebut membantu Tiongkok menjadi satu-satunya ekonomi besar yang tumbuh pada 2020 yakni tumbuh sebesar 2,3 persen di sepanjang tahun lalu, menurut data resmi, meskipun tetap ada tantangan dari pandemi covid-19. Belanja konsumen yang lemah menjadi tantangan di ekonomi Tiongkok, dan data resmi terbaru muncul untuk mengkonfirmasi tren tersebut.
 
Indikator ekonomi lain yang dilaporkan bersamaan dengan angka PDB menunjukkan bahwa pertumbuhan tahun ke tahun dalam penjualan ritel melambat dari lima persen di November menjadi 4,6 persen di Desember. Penjualan ritel untuk 2020 turun 3,9 persen dari tahun sebelumnya, menurut data resmi.
 
"Tetapi tanda-tanda menunjukkan kebangkitan konsumsi," kata Julian Evans-Pritchard, Ekonom Senior Tiongkok di Capital Economics.
 
Dia menjelaskan pertumbuhan pendapatan pulih karena pasar tenaga kerja Tiongkok sebagian besar telah kembali normal. "Meskipun terjadi penurunan terbaru dalam penjualan ritel, kami melihat banyak konsumsi yang naik karena rumah tangga menghabiskan simpanan berlebih yang mereka kumpulkan tahun lalu," tulisnya dalam sebuah catatan.
 
Tetapi Zhu dari JPMorgan memperingatkan bahwa wabah covid-19 yang baru di Provinsi Hebei -yang bertetangga dengan Ibu Kota Beijing- dapat menghambat pemulihan dalam konsumsi dan industri jasa. Hebei mulai melaporkan peningkatan kasus pada awal tahun ini, yang menyebabkan pihak berwenang mengunci beberapa bagian provinsi.
 
Namun, para ahli berpendapat, peningkatan kasus covid baru-baru ini tampaknya tidak akan mengganggu pemulihan ekonomi Tiongkok dalam waktu dekat. Faktanya, beberapa ekonom memperkirakan tingkat pertumbuhan mencapai dua digit untuk kuartal pertama 2021.
 
"Kasus covid telah kembali (sekitar 100 kasus untuk Tiongkok Daratan per hari). Namun sejauh ini, perjalanan domestik melintasi beberapa kota telah berkurang. Tidak ada penguncian skala penuh di sebagian besar lokasi di negara ini," kata Iris Pang, Kepala Ekonom Greater Tiongkok ING.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif