Foto: dok MI.
Foto: dok MI.

Dolar AS Keok Lagi

Ekonomi dolar as
Antara • 02 Juli 2020 07:42
New York: Kurs dolar AS melemah lagi pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Data ekonomi AS yang umumnya solid dan perbaikan angka-angka di Eropa mengurangi daya tariknya sebagai safe haven.
 
Namun demikianprospek mata uang tetap positif mengingat risiko baru yang ditimbulkan akibat virus korona baru alias covid-19.
 
Greenback memulai kuartal ketiga dengan penurunan terhadap mata uang yang berkinerja baik di saat selera risiko meningkat terhadap dolar Australia, dolar Selandia Baru, dan dolar Kanada. Dolar juga jatuh terhadap euro dan poundsterling.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Para analis mengatakan dolar masih bisa naik, karena kebangkitan kasus covid-19. Serta potensi penguncian baru di negara-negara bagian AS yang dianggap sebagai hot spots.
 
"Dalam sektor jasa di AS, mereka yang menghasilkan jumlah pekerjaan tertinggi dalam bisnis seperti restoran, bioskop, dan taman-taman pameran, yang saya pikir akan berhenti total," kata Direktur Pelaksana di BK Asset Management di New York,Boris Schlossberg, dikutip dari Antara, Kamis, 2 Juli 2020.
 
"Ada risiko yang signifikan untuk menutup beberapa negara bagian. Masih ada banyak aliran risiko, dan dolar bisa menjadi penerima aliran itu," tambahnya.
 
Pada Rabu, 1 Juli 2020, Federal Reserve merilis risalah pertemuan kebijakan terakhirnya dan mengatakan prospek ekonomi AS masih sangat tidak pasti. Serta menegaskan bahwa pemulihan ekonomi penuh bergantung pada virus yang berada di bawah kendali.
 
Hal ini membuat mata uang Paman Sam tersebut sempat memperpanjang kerugian terhadap yen dan euro setelah risalah pertemuan Fed dirilis.
 
"Risalah menggarisbawahi pesan dari proyeksi ekonomi bahwa para pejabat tentang prospek ekonomi cukup suram," kata Ekonom senior AS di Capital Economics,Andrew Hunter.
 
Sementara itu, dolar bereaksi sedikit terhadap Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP, yang menunjukkan daftar gaji sektor swasta Juni meningkat 2,369 juta pekerjaan. Data untuk Mei direvisi naik, menunjukkan daftar gaji melonjak 3,065 juta. Angka ini mengikuti rebound mengejutkan dalam pekerjaan yang dilaporkan oleh pemerintah, bukannya jatuh 2,76 juta seperti yang diperkirakan sebelumnya.
 
Dolar memang kehilangan posisi sebagai safe haven, setelah data manufaktur AS menunjukkan angka 52,6, menandakan ekspansi untuk Juni.
 
Sedangkan di Eropa, Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur akhir zona euro dari IHS Markit bergerak mendekati tanda 50 yang memisahkan pertumbuhan dari kontraksi pada Juni.
 
Dalam perdagangan sore, dolar turun 0,3 persen terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya menjadi 97,15. Meskipun dolar telah bertindak sebagai mata uang aman bagi sebagian besar pandemi, fundamental AS juga memainkan peran utama, artinya dolar dapat menguat ketika data lebih baik dari perkiraan.
 
Sementara terhadap yen, dolar melemah 0,4 persen menjadi 107,47 yen. Analis mengatakan kenaikan yen terkait safe haven mengingat pasar saham menurun, terutama di Asia.
 
Euro, sementara itu, naik 0,2 persen menjadi 1,1248 dolar. Mata uang tunggal menguat 6,0 persen terhadap dolar pada Mei hingga awal Juni. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru keduanya naik terhadap greenback.
 

(AHL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif