Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

IMF: Kebijakan Ekonomi Korea Selatan Harus Diubah ke Reformasi Struktural

Ekonomi IMF korea selatan ekonomi asia
Angga Bratadharma • 28 Januari 2022 12:02
Seoul: Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mengatakan Korea Selatan (Korsel) perlu mengalihkan fokus kebijakannya dari mendukung ekonomi ke reformasi struktural. Hal itu untuk menambah jaring pengaman sosial dan mengembangkan pendorong pertumbuhan baru ketika pandemi mereda.
 
Menutup penilaian tahunan ekonomi Korea Selatan, IMF mengatakan, ekonomi akan tumbuh 3,0 persen di tahun ini dan 2,9 persen pada tahun depan. "Ekonomi tumbuh 4,0 persen pada 2021 karena permintaan ekspor melonjak," sebut IMF, dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 28 Januari 2022.
 
Sementara itu, IMF mengatakan rencana kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS dapat menunda pemulihan ekonomi di Asia yang sedang berkembang. Kondisi itu juga terus menekan para pembuat kebijakan untuk waspada terhadap risiko arus keluar modal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Meningkatnya tekanan inflasi, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan penyebaran kasus virus korona dari varian Omicron juga mengaburkan prospek kawasan," kata Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Changyong Rhee.
 
"Kami tidak mengharapkan normalisasi moneter AS menyebabkan guncangan besar atau arus keluar modal besar di Asia, tetapi pemulihan Asia yang sedang berkembang mungkin terhambat oleh suku bunga global yang lebih tinggi dan pengaruhnya," tambahnya.
 
Karena kekhawatiran atas Fed yang lebih hawkish mengguncang pasar global, investor memperkirakan bank sentral AS akan memberi sinyal pada rencananya untuk menaikkan suku bunga pada Maret. Sedangkan pelaku pasar telah menilai total ada empat kenaikan suku bunga di tahun ini.
 
Rhee mengatakan ada risiko inflasi AS bisa berubah lebih tinggi dari yang diharapkan, dan memerlukan pengetatan moneter lebih cepat atau lebih besar oleh The Fed. Kondisi itu pada akhirnya bisa memberikan berbagai macam reaksi terhadap perekonomian dan pasar keuangan.
 
"Setiap miskomunikasi atau kesalahpahaman tentang perubahan tersebut dapat memicu pelarian ke tempat yang aman, meningkatkan biaya pinjaman, dan mengakibatkan arus keluar modal dari negara berkembang Asia," pungkasnya.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif