Ilustrasi harga minyak. Foto: AFP.
Ilustrasi harga minyak. Foto: AFP.

Harga Minyak Terus 'Mendidih'

Antara • 05 Oktober 2022 07:14
New York: Harga minyak melanjutkan lintasan kenaikannya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), di tengah ekspektasi penurunan besar produksi minyak mentah dari kelompok produsen OPEC+ dan karena dolar AS yang lebih lemah membuat pembelian minyak lebih murah.
 
baca juga: Harga Minyak Indonesia selama September Anjlok Jadi USD86,07/Barel

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November terdongkrak USD2,89 atau hampir 3,5 persen, menjadi USD86,52 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember bertambah USD2,94 atau 3,3 persen, menjadi USD91,8 per barel di London ICE Futures Exchange.
 
Reli dua hari terjadi karena para pedagang bertaruh bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, akan mempertimbangkan pengurangan produksi besar-besaran ketika bertemu pada Rabu.
 
Langkah itu akan menekan pasokan di pasar minyak yang menurut para eksekutif dan analis perusahaan energi sudah ketat karena permintaan yang sehat, kurangnya investasi dan masalah pasokan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sumber dari kelompok itu mengatakan OPEC+, yang mencakup Rusia, sedang membahas pengurangan produksi lebih dari satu juta barel per hari (bph). Minyak memperpanjang kenaikan setelah Bloomberg melaporkan OPEC+ sedang mempertimbangkan pemotongan dua juta barel per hari.
 
"Kami memperkirakan pemotongan substansial akan dilakukan, yang tidak hanya akan membantu memperketat fundamental fisik tetapi mengirimkan sinyal penting ke pasar," kata Fitch Solutions dalam sebuah catatan dikutip dari Antara, Rabu, 5 Oktober 2022.
 
Menteri perminyakan Kuwait mengatakan OPEC+ akan membuat keputusan yang tepat untuk menjamin pasokan energi dan untuk melayani kepentingan produsen dan konsumen.
 
OPEC+ telah meningkatkan produksi tahun ini setelah rekor pemotongan diterapkan pada 2020 ketika pandemi memangkas permintaan. Pada awal September, aliansi minyak mengumumkan pengurangan produksi 100 ribu barel per hari untuk Oktober untuk meningkatkan harga.
 
Juga mendorong harga minyak, dolar AS menuju kerugian harian kelima terhadap sekeranjang mata uang karena investor berspekulasi bahwa Federal Reserve AS mungkin memperlambat kenaikan suku bunganya.
 
"Tidak ada keraguan ada dukungan mendasar dari dolar yang lemah dan potensi poros Fed," kata Direktur Energi Berjangka di Mizuho di New York  Bob Yawger.
 
(SAW)



LEAVE A COMMENT
LOADING
social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif