Ilustrasi pelaku e-commerce. Foto: AFP.
Ilustrasi pelaku e-commerce. Foto: AFP.

E-commerce, Jembatan UMKM Tembus Pasar Global

Ekonomi umkm ecommerce
Ade Hapsari Lestarini • 09 Maret 2020 21:02
Jakarta: Sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) bisa menjadi penyelemat saat ekonomi tengah terguncang. UMKM saat ini mendominasi 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
 
Saat wabahvirus korona sedang memukul sektor perdagangan sehingga mengakibatkan melambatnya perekonomian global, penguatan UMKM mutlak dilakukan.Salah satu kategori UMKM yakni pelaku industri rumahan dan warung. Keduanya memiliki karakteristik berbeda sehingga pengembangannya pun berbeda.
 
Oleh karena itu dibutuhkan keberadaane-commerce yang mengerti dan mendukung pelaku UMKM, khususnya di daerah.Para pelaku e-commerce perlu memberi dukungan dengan melihat permasalahannya lebih dalam, dan memahami karakteristiknya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Salah satunya, memberi dukungan teknologi agar usaha warung UMKM di daerah dapat lebih berkontribusi terhadap ekonomi," kata Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi, dalam keterangan resminya, Senin, 9 Maret 2020.
 
Heru menambahkan, e-commerce memiliki peran signifikan untuk meningkatkan inklusi keuangan. Juga, mengintegrasikan teknologi yang dimiliki terhadap para pelaku UMKM. Dukungan tersebut menjadi penting, agar para UMKM dapat lebih terangkat dari sisi peran dan konstribusi.
 
"Kehadiran fintech (financial technology) yang fokus ke e-commerce sudah tepat, apalagi fokus ke daerah, dengan begitu e-commerce tersebut dapat lebih mengembangkan berbagai potensi lokal," ujar Heru.
 
Dia mengatakan, salah satu e-commerce yang fokus mengembangkan UMKM di daerah yaitu Bukalapak. Dengan dukungan teknologi, melalui e-commerce bisa menjadi sarana baru untuk melakukan pembayaran elektronik, remitansi maupun pinjaman online.
 
Menurut dia, e-commerce bisa lebih berkembang di daerah karena sesuai dengan karakteristik konsumen yang perlu terus diedukasi di sektor keuangan dan akses teknologi.Bahkan, beberapa daerah sudah mulai memanfaatkan e-commerce. Baik untuk transaksi dengan layanan pemerintahan, retribusi pasar, dan untuk pengembangan UMKM.
 
"Caranya, tentu perlu ada adopsi dan layanan apa yang akan diberikan. Kemudian tentu butuh dorongan dari DPD RI, Gubernur, Bupati, Wali Kota agar agar beralih dari pembayaran tunai ke nontunai, dan e-commerce juga jadi solusi. Kalangan pengembang layanan juga perlu diajak. Tidak tertutup kemungkinan mengembangkan layanan secara mandiri, tapi bisa menggandeng pemberi layanan yang sudah ada.Dan tak kalah penting, kalangan bisnis, terutama UMKM, serta masyarakat luas di daerah perlu diedukasi dan dicerahkan untuk bagaimana dan apa manfaat penggunaan e-commerce," jelas Heru.
 
Menurut dia, salah satu masalah utama Indonesia adalah ketimpangan pembangunan antara Jakarta dan wilayah-wilayah lain. Ini terjadi lantaran konektivitas antardaerah belum terbangun dengan baik karena potensi lokal belum digarap.
 
Di sisi lain, penyedia platform teknologi telah banyak memajukan pasar nasional sehingga lebih efisien. Namun demikian, untuk mengembangkan pasar lebih luas lagi, penyedia platform teknologi seperti e-commerce perlu untuk mengembangkan potensi regional/lokal untuk menghubungkan perekonomian nasional dan mendorong pertumbuhan.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif