Nurchaeti, salah satu pelaku UMKM binaan Pertamina. Foto: dok Pertamina.
Nurchaeti, salah satu pelaku UMKM binaan Pertamina. Foto: dok Pertamina.

Jurus Jitu Mengantar UMKM Mendunia

Ekonomi pertamina Wirausaha UMKM
Ade Hapsari Lestarini • 30 Oktober 2020 22:12
Jakarta: Jika pada krisis 1998 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dapat bertahan. Tidak kali ini. Pada 2020, seluruh sektor terhantam, termasuk UMKM. Di awal virus korona masuk ke Indonesia, siapa yang menyangka pandemi ini akan memporak-porandakan perekonomian.
 
UMKM pun 'angkat tangan' di awal pandemi tersebut. Di satu sisi, para pelaku usaha ini harus putar otak untuk menyiasati pandemi yang belum diketahui akhirnya. Ini semua dilakukan agar dapur tetap ngebul.
 
Tak ingin melihat pelaku usaha terus terpuruk, PT Pertamina (Persero) pun 'pasang badan' untuk membangkitkan mereka. Perusahaan minyak dan gas bumi pelat merah itu membina UMKM melalui beberapa strategi dengan melakukan pendampingan dan pembinaan secara intensif kepada UMKM binaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun demikian, program kemitraan ini sudah digencarkan Pertamina sejak sebelum pandemi tiba di Indonesia. Adapun skema pembinaan yang diterapkan yakni diawali dengan kondisi UMKM tradisional, kemudian menjadi Go Modern, lalu Go Digital, menjadi Go Online, hingga akhirnya bisa menembus pasar internasional menjadi Go Global.
 
Jurus Jitu Mengantar UMKM Mendunia
UMKM binaan Pertamina. Foto: dok Pertamina
 
Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman, dalam keterangan resminya kepada Medcom.id mengatakan salah satu tujuan UMKM adalah menciptakan lapangan kerja dan pemerataan ekonomi dari tingkat yang paling kecil. Sehingga mereka dapat membantu upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan yang ada di Indonesia.
 
Pertamina juga akan membantu UMKM untuk naik kelas menjadi UMKM unggul dan mandiri melalui beberapa tahapan seperti membantu dapat pengurusan izin usaha atau sertifikat lain. Setelah itu mendorong dari UMKM tradisional menjadi Go Modern, Go Digital, Go Online, hingga Go Global.
 
"Ini sebagai implementasi Goal 8 Sustainable Development Goals (SDGs). Diharapkan dapat membantu masyarakat mendapat pekerjaan yang layak dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Fajriyah.
 
 
 

TKI beromzet miliaran

Lihat saja Nurchaeti, pemilik usaha N&N Internasional. Dia sudah menerapkan seluruh skema pembinaan UMKM dari Pertamina yang sudah mengantarnya memiliki omzet miliaran. Tapi jangan salah, perjuangan yang harus dilaluinya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
 
Saat menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Singapura, pada 2013, dia memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan membuka usaha laundry. Masih terseok di tiga bulan pertama menjalankan bisnisnya, Nurchaeti tak patah semangat. Dia terus bertahan hingga akhirnya mempunyai enam cabang.
 
Naluri bisnisnya makin menggebu-gebu. Dia pun mengikuti pelatihan bisnis kuliner dan mendapatkan ilmu terkait menentukan harga jual dan manajemen pemasaran. Otak bisnisnya langsung tergiur untuk membuka bisnis kuliner.
 
"Ternyata marjin jualan makanan besar juga ya," ujar wanita yang akrab disapa Nur ini.
 
Jurus Jitu Mengantar UMKM Mendunia
UMKM binaan Pertamina. Foto: dok Pertamina
 
Malang melintang mencoba bisnis kuliner namun gagal, Nur pun teringat almarhumah neneknya memiliki resep keripik pisang yang enak sekali. Melihat peluang bisnis itu, dirinya pun memanfaatkan resep turun temurun keluarganya.
 
Bermodal Rp100 ribu untuk membeli pisang tanduk dan bahan lain, bisnis Nur perlahan mulai moncer. Hingga puncaknya, di akhir 2015, Nur bertemu dengan seorang distributor keripik di Brunei Darussalam di sebuah pameran yang tertarik dengan produknya. Tak disangka, produk keripik pisang Nur booming di negeri tersebut.
 
Tidak hanya ke Brunei, empat bulan sekali dia rutin mengekspor produk keripiknya ke berbagai negara. Sekali pengiriman bisa mencapai satu kontainer keripik. Dengan harga Rp10 ribu per kilogram (kg), ia bisa meraup omzet Rp500 juta hingga Rp800 juta setiap pengiriman.
 
"Jika ada lebih dari satu negara tujuan dalam sekali pengiriman, omzet yang didapat bisa lebih dari Rp1 miliar," ungkapnya.
 
Dia pun juga mengirim satu kontainer ke Dubai dan Qatar. Selain Qatar, produknya kini sudah sampai ke beberapa negara Eropa seperti Prancis, Belgia, Jerman, dan Belanda. Di negara Eropa tersebut, produk kripik apel yang menjadi primadona. Sedangkan di Qatar, justru produk kerupuk jengkol yang menjadi idola.
 
(AHL)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif